Menginjak usia dewasa, ada pertanyaan yang sering mengusik benak saya, “Kapan saya berhenti jadi wibu?”
Nggak ada salahnya jadi wibu. Saya bertanya bukan karena wibu adalah sesuatu yang negatif dan harus dihindari. Pertanyaan ini hanya didasari oleh rasa penasaran.
Saya suka dunia jejepangan sejak kecil karena keseringan nonton anime yang dulu nongol melulu di TV. Setiap hari, dari pagi sampai malam, selalu ada anime. Semuanya bagus, rugi kalau ketinggalan. Oleh karenanya, saya jarang main ke luar rumah demi melahap semua menu yang disajikan.
Dari anime, ke-wibu-an saya menyebar ke tokusatsu, game, film, musik, hingga makanan. Saya lupa kapan saya menjadi wibu seutuhnya. Saya nggak sadar, tiba-tiba aja saya rela maraton ratusan episode One Piece dan pasang gambar Naruto di foto profil akun Facebook saya yang bernama Uchiha Ken.
Dulu, saya selalu mengira ke-wibu-an ini bakal hilang seiring bertambahnya usia, seperti orang-orang dewasa di sekitar saya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang jadi wibu. Mereka lebih sering kerja atau nongkrong di pos ronda daripada nonton anime. Kalaupun nonton TV, acara favorit mereka adalah berita, talkshow, film, atau sinetron.
Ayah saya pernah bilang, “Orang dewasa nggak ada yang suka nonton kartun.”
Ucapannya bikin saya makin percaya bahwa ke-wibu-an saya bakal hilang. Pendapatnya masuk akal. Kartun, anime, komik, dan game memang lebih banyak dibikin untuk anak-anak dan remaja. Wajar kalau orang dewasa nggak tertarik.
Anehnya, semakin dewasa, saya makin terjebak di dunia per-wibu-an.
Internet memudahkan saya untuk mencari informasi soal dunia per-wibu-an yang dulu sulit dijangkau. Saya jadi tahu ada komik dan anime yang diciptakan untuk orang dewasa, kayak Berserk, Monsters, dan Goodnight Punpun. Ketika saya membaca dan menontonnya, saya suka karena itu sesuai selera saya, dan saya pun mencari judul-judul lain yang tak kalah menarik. Akhirnya saya terjebak di lingkaran setan: cari judul baru, tonton atau baca, jadi suka, cari judul baru, tonton atau baca, jadi suka, cari judul baru lagi, dan seterusnya sampai kiamat.
Sekarang, saya nggak cuma baca judul-judul baru, tapi juga judul-judul yang rilis jauh sebelum saya lahir. Saya juga sering rewatch atau reread judul yang sudah saya nikmati. Sialnya, saya juga kecanduan beli action figure. Obsesi ini sudah masuk ke tahap adiksi, makin mustahil disuruh pergi.
Sungguh, saya nggak menyangka akan berada di fase ini. Meski saya bertanya-tanya kapan akan berhenti, sejujurnya saya nggak melihat adanya kemungkinan itu.
Kenapa? Karena industri hiburan jejepangan belum mati.
Seperti kebiasaan orang Jepang selama ini, pasti mereka melakukan berbagai inovasi untuk bikin sesuatu yang fresh. Mereka nggak sudi penikmatnya mendapatkan sesuatu yang monoton. Setiap tahun, mereka punya gebrakan baru. Wibu seperti saya pasti terpancing untuk menikmati menu baru mereka.
Lagian, ada banyak banget hal-hal dari dunia per-wibu-an yang selalu menyesuaikan mood, selera, dan usia penikmatnya. Buktinya, saya yang pria tulen ini juga suka anime-anime shoujo yang target pasarnya adalah perempuan. Di Jepang sendiri, ada beberapa lansia yang suka anime Sazae-san, padahal itu cenderung dikhususkan untuk anak-anak.
Entah mengapa, selalu ada cara dan alasan untuk tinggal di dunia per-wibu-an ini.
Jadi, beginilah akhirnya. Tampaknya saya bakal jadi wibu selamanya.
Saya nggak keberatan, sih. Saya malah senang karena punya cara bahagia meski usia makin renta. Kalau dunia per-wibu-an senantiasa bikin saya bahagia, artinya nggak ada alasan buat berhenti.
Saya nggak peduli dengan stigma-stigma buruk soal wibu. Mau dikata bau bawang, dibilang freak, disebut mesum, atau apa pun itu, bodo amat! Itu semua cuma stigma, kenyataannya tentu jauh lebih baik dari yang orang-orang kira.
Tentunya, mungkin selera saya bisa berubah di masa depan, tapi darah wibu di tubuh ini tidak akan berhenti mengalir. Entah selera saya bakal berubah atau masih sama, perjalanan hidup sebagai wibu akan selalu saya banggakan. Kalau ternyata saya menua sebagai wibu, maka saya siap mengarunginya seperti tentara yang nggak pernah kalah perang!
Leave a Reply