Sejatinya, Orang Dewasa Juga Mau Main Kejar-Kejaran

Waktu masih bocil, saya gemar bermain permainan anak-anak; sebut aja petak umpet, kejar-kejaran, lempar-lemparan lumpur, manjat pohon, keceh di sungai, atau hujan-hujanan.

Semuanya terasa asyik pada masanya. Padahal, bikin badan capek, kulit keringetan, baju kotor, bau prengus, dan jadi target amukan orang tua saat pulang ke rumah.

Apa pun risiko saya terima dengan gembira. Semua ini terlalu asyik untuk dipikirin risikonya.

Kini, kalau dipikir-pikir, nggak ada yang asyik dari permainan-permainan itu. Apanya yang seru dari kegiatan yang cuma nyiksa dan ngotorin badan? Apalagi, nggak ada manfaatnya.

Kalau memaksa diri sendiri untuk memainkannya lagi, rasanya nggak sudi.

Tetapi, belakangan ini saya berada di fase melankolis. Saya terbenam pada berbagai hal yang datang dan pergi dari hidup saya, termasuk permainan-permainan itu.

Jujur, saya nggak ingat kapan terakhir kali memainkannya. Saya pun lupa kapan meninggalkannya dari benak dan hati saya. Semuanya mendadak. Saya masuk ke sebuah ruangan dan tiba di tempat yang berbeda sebagai orang lain.

Saya merenunginya lebih lama dari yang lain, dan kesimpulan yang saya temukan rupanya berkaitan dengan pendewasaan.

Saya baru sadar hampir semua orang dewasa nggak memainkan permainan-permainan bocil itu. Kalau mereka memainkannya, itu cuma di momen tertentu–misalnya liburan–bukan tiap hari dan tiap waktu seperti para bocil. Kebanyakan orang dewasa lebih senang memainkan sesuatu yang nggak cuma seru, tapi juga bermanfaat.

Saya pun merasa demikian. Semakin dewasa, saya mulai mencurahkan tenaga dan pikiran buat sesuatu yang berguna saja, baik untuk jangka panjang dan jangka pendek.

Semua pilihan hanya saya ambil karena hasilnya. Semakin kecil kegunaan hasil itu bagi kehidupan saya, lebih baik berpaling dan mengambil pilihan lain yang jauh lebih bermanfaat.

Nggak ada waktu untuk sesuatu yang useless. Hidup terlalu singkat. Beban terlalu berat. Nasib terlalu random. Mending menyiapkan segalanya dan mengambil untung sebanyak-banyaknya.

Pertanyaannya, apakah saya bahagia dengan kehidupan semacam itu?

Tentu, saya bahagia. Saya capai apa yang saya mau, hidup dengan apa yang saya berikan ke orang lain, dan maju ke arah yang saya tuju. Aneh rasanya kalau saya nggak bahagia.

Ketika saya memikirkan alasannya, tanggung jawab dan impian adalah dua kata yang paling tepat.

Sebagai orang dewasa, saya punya beban yang tak pernah ada di kehidupan saya sebelumnya. Oleh karena itu, saya harus hidup dengan ritme dan pola hidup yang benar untuk membawa beban itu tanpa jatuh.

Beban seberat itu harus dipikul oleh orang yang baru dewasa seperti saya ke tempat yang entah seberapa jauh jaraknya. Saya harus berjalan ke sana, tanpa kesempatan putar balik, dan dihantui oleh waktu yang selamanya mengejar saya.

Dengan kehidupan semacam itu, saya terpaksa membuang semua yang nggak berguna, nggak berarti, dan nggak bernilai. Semuanya demi menjaga ritme dan pola hidup supaya nggak berantakan.

Permainan-permainan bocil itu adalah sesuatu yang terpaksa dikorbankan karena nggak ada manfaatnya.

Harus diakui, kini saya hanya hidup untuk memenuhi tanggung jawab dan mengejar sesuatu yang tak terlihat. Di samping saya menyukainya, saya juga membencinya.

Saya benci tidak bisa merasakan kenikmatan dari momen-momen sederhana yang nggak ada manfaatnya. Padahal, boleh jadi momen-momen itu adalah salah satu cara menikmati hidup dengan mudah, sebuah jalan untuk merasakan kehidupan yang fresh dan nyaman.

Tentunya, semua yang hilang punya penggantinya. Mau kejar-kejaran? Mending jogging. Mau capek? Mending kerja. Mau hujan-hujanan? Mending renang.

Meski bikin senang, rasanya nggak sama, karena semuanya dilakukan demi hasil, bukan kesenangan semata.

Lantas, apakah saya harus melepaskan kehidupan semacam ini untuk mendapatkan kesenangan itu lagi?

Bagi saya, itu adalah pilihan yang buruk. Kehidupan sudah berubah dan terus berlanjut. Meninggalkan kehidupan semacam ini sama dengan bunuh diri, bikin repot di masa tua.

Satu-satunya jalan keluar dari masalah ini adalah menyeimbangkan kehidupan. Setidaknya, sesekali saya harus bersenang-senang tanpa memikirkan hasil atau manfaat. Ambil sebagian waktu untuk menyegarkan hati dan pikiran. Lakukan sesuatu karena ingin, bukan harus.

Sejatinya, hidup adalah tentang menikmati kehidupan itu sendiri.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *