Kadang-kadang, saya merasa sudah menyia-nyiakan hidup.
Saya bukan mau bilang Kalau saya suka menyerah di tengah jalan atau takut melakukan keinginan saya, tapi ini ada kaitannya dengan berbagai pilihan yang nggak saya ambil.
Internet mengantar saya ke dunia yang belum pernah saya lihat. Saya jadi tahu banyak hal, seperti tempat ngopi yang enak, referensi buku yang bagus, atau berbagai kegiatan asyik yang nggak pernah saya lakukan.
Namun, pilihan saya tetap itu-itu saja.
Saya berbeda dengan teman-teman saya yang cenderung termakan konten-konten di internet. Ada restoran enak, meluncur. Ada merk sepatu trendy, pasti beli. Ada tempat nongkrong baru, langsung bikin pantun:
Berang-berang makan coklat
Berangkat!
Buat saya, ini wajar. Siapa yang nggak suka tempat makan baru, pengalaman baru, atau suasana baru?
Apalagi, konten-konten di internet bekerja seperti sulap, menghipnotis alam bawah sadar orang dengan segala jenis racun yang ditawarkan.
Saya pun teracuni oleh konten-konten itu. Bedanya, saya nggak berminat mencobanya. Atau bisa dibilang, racun itu masuk ke tubuh saya, tapi nggak pernah menyakiti atau membunuh saya.
Dengan aneka pilihan di dunia ini, rasanya aneh karena pilihan saya malah itu-itu saja.
Saya tetap ngopi di tempat yang sama, beli pakaian dari merk yang sama, makan di restoran yang sama, dan jalan-jalan di mal yang sama.
Hal baru cuma datang ke saya kalau ada yang mendorong saya ke sana, seperti saat teman saya mengajak beli kopi merk baru. Tetapi, setelahnya saya pasti beli kopi di tempat biasanya dan hampir nggak pernah beli kopi baru itu lagi–bahkan kalau kopinya enak.
Saya terlalu nyaman dengan pilihan saya, soalnya sudah familiar dengan suasana atau rasanya.
Orang yang perilakunya berlainan dengan saya mungkin berpikir hidup saya monoton. “Nggak seru banget, hidup kok gitu-gitu aja!” Setidaknya itulah kata teman-teman saya.
Saya tidak mau membenarkan atau menyalahkan, tapi saya percaya pilihan orang itu nggak perlu dihakimi–kecuali kalau itu merugikan orang lain.
Selama saya menikmati kehidupan yang monoton itu, kayaknya nggak ada yang salah dengan pilihan saya.
Lagian, hal-hal baru yang tampak enak atau seru pun biasanya tidak seperti kelihatannya.
Saya adalah pecinta makanan Italia, khususnya alfredo. Ada satu restoran Italia yang menghidangkan alfredo super lezat. Saya suka beli di sana. Suatu hari, saya mencoba Alfredo dari restoran yang kata netizen, tapi buat saya malah lebih tidak enak dari yang saya kira. Saya pun beli alfredo di restoran favorit saya esoknya.
Meskipun saya punya pendapat seperti itu, tentu saya juga mengalami dilema. Nggak jarang saya berusaha menjadi seperti orang lain, mencoba ini-itu yang ada di internet. Tapi, ada rasa enggan yang mengurungkan niat saya untuk melakukannya.
Kalau hati sudah bicara, saya bisa apa?
Akhirnya saya memilih pilihan yang sama lagi, dan saya tidak pernah menyesalinya.
Hmm… saya antusias menunggu hal monoton apa lagi yang saya miliki di 5 tahun ke depan.
Leave a Reply