Kamu pernah kepikiran nggak kalau kreativitas itu cuma milik seniman?
Padahal, barangkali kreativitas bukan soal seni atau artistik, tapi berkaitan langsung dengan tindakan kita sehari-hari, meskipun kita bukan orang yang berkecimpung di dunia seni.
Maksud saya, kita semua adalah orang kreatif.
Sebelumnya, saya mengira kreativitas mustahil dimiliki semua orang. Kreativitas hanya berkaitan dengan ide atau imajinasi yang unik dan out of the box. Apalagi, arti “kreativitas” di KBBI adalah kemampuan untuk mencipta (perihal berkreasi). Jadi, tidak mungkin semua orang layak disebut kreatif.
Akan tetapi, pandangan saya berubah usai mengikuti kelas 2 Jam Kreatif bersama Rza Kumar & Ryan Nira setahun lalu.
Kelas ini bicara soal makna “kreativitas” dan bagaimana dampaknya pada kehidupan.
Di kelas itu saya sadar bahwa kreativitas lebih dari sebuah ide, imajinasi, atau daya cipta.
Karena kelas ini pula saya sadar bahwa selama ini saya adalah orang kreatif. Saya telah melakukan tindakan-tindakan kreatif, yang sebelumnya saya anggap tidak berarti sama sekali.
Bagi saya, mengetahui bahwa saya adalah orang kreatif sangat penting. Soalnya, saya jadi tahu cara menajamkan kreativitas saya, serta mempermudah segala urusan di kehidupan saya.
Apa Itu Kreativitas?
Di kelas, Rza Kumar menyampaikan bahwa kreativitas adalah kemampuan memecahkan masalah.
Jika berpegang pada definisi ini, maka kreativitas tidak terbatas pada orang-orang yang hidup di dunia seni.
Siapa pun orangnya, apa pun pekerjaannya, bagaimanapun kehidupannya, orang itu punya kreativitas.
Semua orang bisa bertindak kreatif.
Tapi kan KBBI punya pengertian lain soal kreativitas!
Iya, betul. Tapi saya rasa tidak ada salahnya bila kita memandang kreativitas dengan cara lain selama itu masuk akal. Toh, makna “kreatif” sendiri sifatnya abstrak.
Lagian, kenyataannya, kreativitas memang berkaitan langsung dengan problem solving.
Kalau nggak percaya, coba deh kamu observasi kapan kamu bilang seseorang itu kreatif?
Apakah saat kamu melihat iklan lucu di billboard? Apakah waktu kamu tertawa karena jokes aneh dari pelawak di TV? Atau, apakah saat kamu melihat lukisan dari ampas teh di museum?
Itu memang sesuatu yang kreatif. Namun, itu tidak lepas dari pemecahan masalah.
Kenapa?
Bagaimana jika iklan lucu di billboard yang kamu lihat tadi sore berasal dari kesulitan perusahaan untuk menarik perhatian audiens? Bagaimana bila pelawak itu bikin jokes aneh agar kamu tertawa? Dan, bagaimana kalau lukisan dari ampas teh itu adalah cara pelukis menjadi berbeda dari pelukis lain?
Tampak jelas bahwa ide-ide itu datang dari masalah yang ingin diselesaikan, kan?
Contoh lain akan saya ambil dari serial Malam Minggu Miko.
Tepatnya di season 1, Raditya Dika (pemain dan sutradara) mengaku tak punya cukup budget di salah satu episode. Sebagai solusi, Raditya Dika menciptakan episode yang hemat budget karena tempat syuting film hanya di depan webcam. Maka, lahirlah episode Webcam Bareng Disty.
Episode ini sangat digandrungi pada masanya karena dianggap fresh dan kreatif gara-gara mengikuti perkembangan zaman.
Di sini, mulai tampak cara sebuah kreativitas terbentuk.
Masalah → Mencari Solusi → Solusi.
Proses mencari solusi adalah kreativitas itu sendiri.
Bagaimana kita mengenali dan menganalisis masalah hingga menemukan ide untuk mengatasi masalah tersebut adalah tindakan kreatif.
Dan, kalau dipikir-pikir, ini ada sangkut-pautnya dengan definisi “kreativitas” menurut KBBI: Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta…kan solusi.
Jika kamu sepakat bahwa kreativitas berkaitan dengan problem solving, maka kamu memahami bahwa output atau hasil dari kreativitas bukan hanya barang atau jasa, tapi juga hal-hal biasa yang sering kita lakukan.
Barangkali, selama ini kamu menganggap kreativitas hanya menghasilkan objek-objek tertentu, misalnya lagu, lukisan, produk, atau novel. Namun, kini kamu bisa mengatakan bahwa semua tindakanmu untuk memecahkan masalah adalah sesuatu yang kreatif. Mau itu kamu bangun usaha laundry agar tetangga tidak kesulitan saat mencuci baju, kamu bikin dumbell dari semen agar bisa workout di rumah, atau sekadar kamu memasang 10 alarm setiap menit agar bangun lebih pagi, semuanya adalah tindakan kreatif.
Setelah menyadari bahwa kamu adalah orang yang punya kreativitas, kini kamu bisa menajamkan kreativitasmu.
Kamu tidak akan bisa mengasah kreativitas bila kamu tidak pernah merasa memilikinya.
Bagaimana Kreativitas Terbentuk?
Kreativitas seseorang terbentuk karena dua hal: Pengalaman dan Pengetahuan.
1) Pengalaman
- Main bersama teman
- Masalah-masalah di tempat kerja
- Kegiatan organisasi di kampus atau sekolah
- Trauma masa lalu
- Pengaruh teman dan lingkungan
- Pola asuh orang tua
2) Pengetahuan
- Pelajaran di sekolah
- Ikut kursus atau bootcamp
- Nonton video di YouTube
- Baca buku
- Baca blog ini (Please, iya’in aja!)
Bisa dibilang, dua hal ini tidak bisa dipisahkan dan saling melengkapi. Dengan kombinasi keduanya, kamu punya banyak opsi untuk memecahkan masalah.
Jika kamu merasa kreativitasmu mentok, kamu harus bergabung di lingkungan aktif atau memaksa dirimu jadi produktif.
Ikutlah komunitas-komunitas yang kamu suka, bergabung sebagai relawan di sebuah event, mendaftar kursus dari internet, jadi freelancer, dan sebagainya.
Semakin banyak kamu belajar, semakin banyak pengalaman hidupmu, kamu semakin kreatif.
Dampak Kreativitas di Kehidupan
Mengetahui bahwa kita adalah orang kreatif sangat berguna di dunia kerja atau kehidupan sehari-hari.
Saat masih kecil, misalnya, saya pernah lupa membeli lem kertas untuk menyelesaikan tugas kliping. Dengan cerdas, ibu mengganti lem dengan nasi. Ternyata, sifat lengket dari nasi juga bisa digunakan sebagai perekat. Kliping saya pun selesai.
Di masa kecil pula, saya dan teman-teman sempat punya masalah pelik: Bagaimana cara agar sepeda kami terasa seperti motor balap?
Bagi orang biasa, masalah ini tentu mustahil dipecahkan. Akan tetapi, bagi orang kreatif, ini hanyalah masalah biasa.
Entah dari mana ilhamnya, seorang teman menyelipkan gelas plastik bekas air mineral ke ban belakang sepeda. Hasilnya, sepeda kami berbunyi seperti knalpot motor balap saat melaju.
Di dunia kerja, saya yang berdagang di marketplace sempat bermasalah dengan para konsumen yang suka return barang. Ada yang cacat, kata mereka.
Gara-gara banyak konsumen yang bertindak demikian, saya curiga adanya penipuan dari mereka. Bukannya saya berprasangka jelek ya, tapi saya selalu cek barang sebelum dikemas.
Maka, saya bikin SOP sebelum mengemas barang. Saya pun bikin label berisi aturan bagi konsumen yang ingin return barang. Label itu wajib selalu ditempel pada kemasan.
Solusi ini rupanya ampuh mengingat saya tidak pernah mengalami masalah serupa lagi. Malahan, toko saya mendapat review bagus melulu.
Dengan mengetahui bahwa saya punya kreativitas, kehidupan saya berjalan lebih mudah karena saya berani melawan masalah. Kalau ada masalah, tinggal dicari solusinya.
Bila kamu sadar bahwa kreativitas adalah milikmu juga, masalah jadi tak lebih dari sebuah kata.
Leave a Reply