Show Don’t Tell: Teknik Menulis Klise yang Impactful

“Don’t tell me the moon is shining; show me the glint of light on broken glass.” -Anton Chekhov.

Sebagai penulis, tentunya kamu ingin pembaca bisa merasakan apa yang diceritakan dalam tulisanmu. Kamu ingin pembaca merasa sedih, takut, senang, gembira, bahkan hampa saat membaca tulisan itu.

Sayangnya, memanipulasi emosi pembaca adalah masalah yang tak hanya dialami oleh penulis pemula, tapi juga para penulis profesional.

Biasanya penulis melakukan berbagai cara untuk memanipulasi emosi pembaca; seperti menulis tulisan panjang yang detail, menggunakan analogi atau majas, memakai kata-kata tertentu, hingga memilih topik-topik emosional.

Mungkin, cara-cara di atas terbukti sukses untuk memanipulasi emosi pembaca. Tidak ada salahnya bila kamu menerapkan tips-tips tersebut. Akan tetapi, kamu harus tahu bahwa ada satu teknik jitu yang kerap digunakan para penulis jempolan ketika hendak memanipulasi emosi pembaca, yaitu Show, Don’t Tell.

Teknik ini pasti sudah tak asing di telinga para penulis karena kerap diajarkan di berbagai kelas menulis kreatif. Meskipun “Show, Don’t Tell” terdengar mudah dan klise, dibutuhkan latihan rutin dan jam terbang yang tinggi untuk menguasainya.

Namun, jika kamu berhasil, kamu akan merasa bangga dengan tulisanmu. Kamu akan menjadi penulis yang lebih mahir dari sebelumnya. Dan, tentunya kamu sukses membuat pembaca merasakan apa yang diceritakan dalam tulisanmu.

Apa itu Show, Don’t Tell?

Sebagai permulaan, coba kamu bayangkan dua adegan ini:

  1. Temanmu bilang dia punya ilmu kebal.
  2. Temanmu mengambil sebuah pisau. Dia mengarahkan mata pisau ke perutnya dengan kencang. Namun, pisau itu patah setelah mengenainya, dan perut temanmu tidak terluka.

Dari dua adegan itu, mana yang paling bikin kamu percaya bahwa temanmu punya ilmu kebal?

Saya tebak, kamu memilih adegan kedua.

Pada dasarnya, dua adegan itu adalah contoh sederhana dari “Show, Don’t Tell”. Di adegan pertama temanmu mengatakan (tell) dia punya ilmu kebal. Sedangkan di adegan kedua,  temanmu menunjukkan (show) ilmu kebalnya.

Inti dari dua adegan itu memang mirip, yaitu temanmu punya ilmu kebal. Akan tetapi, adegan kedua lebih terpercaya karena temanmu memberikan bukti, fakta, aksi, gambaran, atau kejelasan; bukan pernyataan atau informasi abstrak.

Dengan kata lain, orang lebih percaya kepada sesuatu jika itu ditunjukkan, bukan dikatakan.

Show, Don’t Tell adalah teknik menulis yang menganjurkan penulis untuk menunjukkan (show) cerita melalui aksi atau dialog, bukan memberitahukannya (tell).

“Show, Don’t Tell” berguna untuk memberi gambaran yang jelas terhadap konsep-konsep abstrak–seperti kebal, cinta, cantik, baik, ramah, jahat, jelek, dan sebagainya–dalam sebuah cerita.

Pada dua adegan di atas, adegan kedua menunjukkan gambaran dari konsep “kebal”, yaitu temanmu tidak terluka saat ditusuk pisau.

Dengan teknik ini, pembaca bisa masuk ke ceritamu melalui apa yang dilihat, didengar, disentuh, dicium, dirasakan, dan dialami tokoh sehingga pembaca bisa merasakan atau mengalami sendiri cerita tersebut. Pembaca akan merasa terlibat dalam cerita, bukan hanya tahu peristiwa yang terjadi.

Seumpama pembaca menutup mata setelah membaca ceritamu, mereka bisa membayangkan cerita itu dengan sangat jelas.

Mari ambil contoh.

Dalam novel Sang Alkemis (1988) karya Paulo Coelho, ada dialog menarik antara Fatima dengan seorang lelaki (Santiago).

Fatima berkata, “Sehari setelah kita bertemu, kaubilang padaku kau mencintaiku. Lalu kau mengajariku sedikit bahasa universal dan Jiwa Dunia. Karena itulah aku menjadi bagian dirimu.”

Anak itu mendengarkan suara Fatima, dan di telinganya suara itu lebih merdu daripada desau angin di antara pepohonan kurma.

“Aku telah lama menunggumu di sini, di oasis ini. Aku telah lupa masa laluku, adat-istiadat bangsaku, dan bagaimana pandangan kaum pria gurun tentang bagaimana seharusnya kaum wanita bersikap. Sejak masih kecil aku telah mengangankan padang pasir ini memberiku hadiah yang indah. Sekarang hadiahku sudah datang. Engkaulah orangnya.”

Si anak lelaki hendak meraih tangan Fatima. Tapi kedua tangan gadis itu memegang erat gagang-gagang buyungnya.

“Kau telah menceritakan padaku tentang mimpi-mimpimu, raja tua itu, dan harta karunmu. Kau juga menceritakan pertanda-pertanda itu. Jadi, sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan, sebab pertanda-pertanda itulah yang telah membawamu padaku. Aku bagian dari mimpimu, bagian dari takdirmu, seperti kaukatakan.”

Dari adegan itu, kamu pasti tahu bahwa Fatima sudah menerima cinta Santiago. Padahal, bila dicermati, Fatima tidak mengatakan apa pun soal cinta.

Lantas, mengapa kamu tahu perasaan Fatima?

Alasannya, dialog tersebut menunjukkan (show) perasaan Fatima kepada Santiago, yang mana merujuk pada rasa cinta.

Meski tidak membicarakan cinta, kamu merasakan perasaan Fatima. Kamu seolah-olah memasuki hati Fatima dan melihat sendiri apa yang ada di dalamnya. Kamu mengalami apa yang dirasakan Fatima kepada anak lelaki itu yang dipengaruhi oleh masa lalu dan angan-angannya.

Dengan teknik ini, Paulo Coelho menjelaskan konsep cinta dengan cara yang menarik, mendalam, puitis, indah, dan tentunya keren.

Saya pun pernah menerapkan “Show, Don’t Tell” dalam cerpen saya yang berjudul Jatuh Cinta seperti Di Novel-novel Remaja (2023).

Semuanya bermula di pekan awal kelas 2 SMA. Di depan pintu masuk, aku berpapasan dengan siswi baru dari kelasku. Mata kami bertemu. Posturnya ramping. Tinggi badannya setinggi telingaku. Rambut lurus menyapu bahunya. Aromanya semanis stroberi. Kulitnya putih berseri. Alisnya melengkung bak pelangi. Bibirnya secerah galaksi. Dan, parasnya selembut puisi.

Walaupun momen itu mungkin berlangsung selama tiga sampai lima detik, harus kuakui jantungku berdebar-debar dan adrenalinku berpacu tanpa kendali. Begitu pandangan kami terlepas, sebuah gejolak bergemuruh dalam organ misterius di dadaku.

Setelah membaca adegan itu, kamu tentu menganggap tokoh Aku (Allan) mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama.

Walaupun tidak ada kata “cinta” di sana, kamu merasakan rasa “cinta” tersebut dari reaksi Allan saat berpapasan dengan siswi baru itu, yaitu jantung berdebar-debar, adrenalin berpacu tanpa kendali, dan gejolak yang bergemuruh.

Selain itu, dari deskripsi fisik yang diutarakan Allan, kamu tahu bahwa siswi baru itu adalah gadis yang cantik.

Bandingkan jika saya menulis:

Setelah berpapasan dengan wajah cantiknya, mendadak aku jatuh cinta.

Kedengarannya hambar dan monoton, kan?

Saat membacanya, kamu tak merasakan apa-apa. Kamu tak memahami perasaan Allan saat jatuh cinta. Kamu hanya tahu bahwa Allan jatuh cinta.

Mungkin, kamu pun bertanya-tanya: Seberapa cantik siswi baru itu? Bagaimana Allan tahu bahwa dia jatuh cinta? Apa yang dirasakan Allan saat memandang wajah cantiknya hingga itu memikat hatinya?

Hal-hal semacam itu menyebabkan pembaca tidak terlibat dalam ceritamu. Yang lebih parah, pembaca bisa tidak percaya pada apa yang terjadi di dalam ceritamu.

“Show, Don’t Tell” bertujuan untuk melibatkan pembaca ke dalam cerita. Pembaca akan mengalami dan merasakan sendiri apa yang terjadi di dalam cerita, bukan hanya mengetahuinya. 

Jika si tokoh jatuh cinta, pembaca ikut jatuh cinta. Saat si tokoh sedih, pembaca juga bersedih. Kalau si tokoh takut, pembaca pun ketakutan. 

Dengan Show, Don’t Tell, cerita menjadi jauh lebih berdampak bagi emosi pembaca.

Tell, Don’t Show

Pada teknik Show, Don’t Tell kamu dianjurkan untuk menunjukkan atau menggambarkan cerita dengan detail. Sebaliknya, teknik Tell, Don’t Show justru mengimbaumu untuk tidak menunjukkan semuanya, terutama peristiwa-peristiwa kecil yang dirasa kurang penting atau tidak terlalu mempengaruhi plot cerita.

Lho, bukannya bagus kalau semuanya ditunjukkan?

Kalau kamu menceritakan semuanya, bukan tak mungkin ceritamu terasa bertele-tele dan berakhir menjadi ribuan halaman. Pembaca bisa kelelahan atau jenuh saat menikmati ceritamu.

Sebagai penulis, kamu harus paham bahwa menulis cerita adalah seni untuk merangkai adegan, memberi perhatian lebih pada bagian-bagian penting, dan menceritakan bagian-bagian kecil secukupnya dengan cara yang menarik.

Ada waktunya kamu bercerita dengan detail maupun ringkas. Jangan terobsesi untuk menuturkan semua hal dengan rinci, apalagi jika itu adalah hal yang kurang penting. Kamu harus memahami kebutuhan ceritamu sendiri.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa menyimak uraian di bawah ini:

Gunakan SHOW jika:

  • Itu adalah adegan penting, seperti momen klimaks dalam cerita.
  • Adegan itu perlu dijelaskan dengan singkat tapi detail supaya pembaca bisa membayangkannya.
  • Adegan itu adalah momen konflik atau drama.
  • Kamu menciptakan dialog yang penting dan dramatis, serta mempengaruhi plot cerita.

Gunakan TELL jika:

  • Adegan tersebut memberikan informasi yang perlu diketahui pembaca tapi tidak mempengaruhi plot, misalnya memberitahu hobi karaktermu.
  • Adegan tersebut tidak penting untuk plot cerita.
  • Kamu menyatukan adegan yang sangat dramatis dan kurang dramatis. Agar cerita tetap menarik, ringkaslah adegan yang kurang dramatis.

Penggunaan Show, Don’t Tell dalam Tulisan Nonfiksi

Umumnya, teknik “Show, Don’t Tell” digunakan untuk tulisan fiksi. Jika kamu adalah penulis yang cenderung merangkai tulisan-tulisan nonfiksi, mungkin ini menimbulkan pertanyaan: Apakah “Show, Don’t Tell” boleh dipakai dalam tulisan nonfiksi?

Bagi saya, segala jenis teknik menulis tidak dibatasi oleh jenis tulisan, baik itu fiksi maupun nonfiksi.

Selama kamu menggunakan teknik itu dengan baik, sesuai konteks tulisanmu, dan selaras dengan tujuan tulisanmu, maka tidak ada alasan untuk tidak menggunakannya.

Memangnya ada contoh penggunaan “Show, Don’t Tell” dalam tulisan nonfiksi? BANYAK!

Coba, deh, kamu buka halaman MacBook Pro di website resmi Apple. Kamu akan menemukan salah satu fitur MacBook Pro versi baru, yaitu daya tahan baterai yang lebih lama dan pengisian daya yang cepat.

Namun, untuk memamerkan fitur tersebut, Apple tidak menulis:

MacBook Pro baru punya daya tahan baterai yang lebih lama dan pengisian daya cepat.

Jika Apple benar-benar menulis seperti itu, bukankah itu tidak menjelaskan apa pun? 

Sebagai audiens, kamu tak tahu berapa lama daya tahan baterainya, seberapa besar perbandingan daya tahan baterai MacBook Pro baru dengan MacBook Pro lama, dan seberapa cepat pengisian dayanya.

Meskipun tampaknya remeh, ini bisa menimbulkan keraguan dari dirimu untuk membeli produk tersebut, lho!

Hebatnya, Apple tidak sudi membiarkan audiensnya kabur dan membeli produk kompetitor.

Makanya Apple dengan cerdas menulis:

MacBook Pro baru memiliki kekuatan baterai paling tahan lama yang pernah ada di Mac–hingga 24 jam–dan mendukung pengisian daya cepat, yang memungkinkannya mengisi daya hingga 50 persen dalam 30 menit.

Deskripsi tersebut membantu audiens untuk mendapatkan informasi yang jelas soal keunggulan MacBook Pro. Selain itu, kamu juga bisa merasakan dampak fitur tersebut di kehidupanmu, misalnya kamu bakal punya waktu produktif yang lebih lama atau tak khawatir lagi jika ada meeting dadakan saat MacBook Pro-mu lowbat.

Hasilnya, kamu buru-buru pergi ke iBox dan belanja MacBook Pro versi baru.

Satu hal yang patut diingat adalah penulis bertugas untuk menyampaikan sebuah pesan kepada audiens. Semakin jelas pesan yang diterima, artinya penulis telah melakukan tugasnya dengan baik.

Jika teknik-teknik menulis tertentu dapat membantumu dalam menunaikan tugas tersebut, maka gunakanlah itu tanpa ragu.

Latihan dan Tips Menggunakan Show, Don’t Tell

Untuk berlatih teknik Show, Don’t Tell, kamu perlu memberi perhatian lebih pada konsep-konsep abstrak yang ingin disampaikan.

Sebagai contoh, mari kita bahas konsep “pintar”.

Tentunya kamu paham bahwa “pintar” punya makna yang relatif, tergantung bagaimana tiap orang memahaminya. Apa yang dianggap pintar oleh dirimu bukan berarti orang lain beranggapan serupa.

Oleh karena itu, kamu perlu menunjukkan maksud “pintar” yang ada di ceritamu.

Misalnya, jika kamu menulis, “Budi adalah anak yang pintar di sekolah,” pembaca akan punya makna tersendiri soal kepintaran Budi.

Daripada mengatakan itu, sebaiknya kamu menunjukkan bahwa Budi tidak pernah turun dari peringkat satu di kelas, Budi selalu menyelesaikan soal-soal ujian dengan cepat dan tepat, Budi selalu mendapatkan nilai di angka 90 ke atas, dan Budi adalah pilihan favorit pihak sekolah untuk menjadi peserta Lomba Cerdas Cermat.

Kamu bisa mulai berlatih menggunakan “Show, Don’t Tell” dengan tips ini:

  • Tulis tentang galau dalam lima belas menit tanpa menggunakan kata galau atau kata-kata lain yang menjadi sinonimnya.

Kamu boleh menulis tentang dirimu yang tidak bisa makan setelah cintamu ditolak. Kamu menangis seharian saat dia menikah dengan sahabat karibmu. Kamu tidak bisa membuka hati kepada orang yang jauh lebih baik dari mantanmu. Atau, kamu merasa belum ada satu bulan dan kamu yakin masih ada sisa wangimu di bajunya, tapi dia tampak baik saja, bahkan senyumnya lebih lepas, sedangkan di sana kamu hampir gila.

Kamu juga boleh belajar “Show, Don’t Tell” dengan konsep-konsep abstrak lainnya: kebal, benci, tampan, cantik, sedap, ikhlas, jauh, dekat, dan sebagainya.

Selain itu, agar kamu semakin mudah saat belajar, silakan ikuti 3 tips berikut:

1) Gunakan 5 indra

Tunjukkan apa yang dilihat si tokoh, suara yang didengar si tokoh, aroma yang dicium si tokoh, rasa yang dirasakan lidah si tokoh, tekstur yang disentuh si tokoh, serta apa yang dipikirkan atau dirasakan di hati si tokoh.

2) Hindari konjungsi yang menyatakan identitas atau makna

Jika kamu menggunakan konjungsi seperti adalah, ialah, merupakan, dan konjungsi-konjungsi sejenisnya, kamu cenderung sedang melakukan telling ketimbang showing.

3) Gunakan dialog

Kamu bisa menunjukkan aksi yang dilakukan karakter melalui percakapan. Anggap saja si karakter bercerita kepada lawan bicaranya, seperti saat kamu menunjukkan kebaikan pasanganmu di hadapan sahabatmu.

Meskipun Show, Don’t Tell harus dilatih dengan giat dan butuh jam terbang tinggi untuk menguasainya, teknik ini harus dikuasai jika kamu ingin menjadi penulis yang hebat. 

Kamu mungkin akan kesulitan untuk menguasainya, tapi hasil yang kamu terima tidak akan mengkhianati usahamu. Oleh karena itu, jangan menyerah selama belajar.

Terus belajar dan lahirkan penulis yang luar biasa di dalam dirimu.

Semangat 😉

Referensi:

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *