Nulis Dulu atau Belajar Dulu: Mana yang Terbaik?

“Pengetahuan tanpa praktek adalah percuma. Praktek tanpa pengetahuan adalah bahaya.” – Confucius.

Saya punya kebiasaan yang aneh saat belajar sesuatu, yaitu selalu buru-buru praktek padahal belum belajar sepenuhnya, bahkan jika saya hanya punya secuil informasi.

Saat diminta ikut lomba jurnalistik antar sekolah, saya terima meskipun tahu sedikit ilmu soal jurnalistik. Ketika buka bisnis online, saya belum tahu cara berbisnis online yang benar. Kala jadi anak band, saya gabung band tanpa punya skill main alat musik yang mumpuni.

Simpelnya, saya selalu belajar sambil jalan dengan menjebak diri saya di suatu tempat, kemudian mengembangkan diri sekaligus bertahan hidup di tempat itu sebaik-baiknya.

Dalam dunia tulis-menulis, saya mengalami hal serupa.

Saat mendapat ilham untuk bikin novel, saya langsung menulis novel, bukan mencari cara menulis novel.

Bagaimana hasilnya?

Mulanya terasa menyenangkan. Akan tetapi, kadang-kadang muncul berbagai kendala atau masalah yang bikin saya berpikir, “Seharusnya saya belajar menulis lebih dulu.”

Di sisi lain, saya merasa lebih nyaman terjun langsung ke medan perang karena insting dan naluri saya terasa sendiri seiring bertambahnya jam terbang. Bahkan, saat saya belajar menulis, ternyata saya sudah paham beberapa teori berkat pengalaman.

Barangkali, kebiasaan ini tak hanya dialami oleh saya, melainkan banyak orang, termasuk kamu semua.

Haus akan rasa ingin tahu, dorongan adrenalin dari sebuah tantangan, kebiasaan belajar lewat praktek, dan lelah dengan segudang teori menjadi alasan kita cenderung suka langsung praktek daripada belajar sungguh-sungguh lebih dulu.

Lantas, jika kamu ingin mulai menulis, sebaiknya menulis dulu atau belajar dulu? Mana yang paling baik dari keduanya? Mari kita bahas!

Menulis Dulu, Belajar Kemudian

“Orang yang menyukai praktek tanpa teori itu seperti pelaut yang menaiki kapal tanpa kemudi dan kompas, dan tidak pernah tahu ke mana ia akan berlayar.” – Leonardo da Vinci.

Ketika kamu memilih praktek sebelum belajar, ini bukan berarti kamu mencobanya dengan kepala kosong.

Kamu setidaknya punya sedikit informasi soal sesuatu yang akan dipraktekkan. Contohnya, saat kamu menanak nasi untuk pertama kalinya, kamu pasti pernah melihat orang menanak nasi atau kamu pernah dikasih tahu cara menanak nasi.

Dunia tulis-menulis pun tak ada bedanya. Ketika kamu ingin menggarap novel, kamu pernah membaca novel. Saat kamu ingin menulis artikel, kamu pernah membaca artikel. Kala kamu mau merangkai puisi, kamu pernah membaca puisi.

Dengan kata lain, meskipun kamu tak tahu teori atau ilmu yang benar, kamu sudah tahu “gambaran”-nya secara sederhana.

Lantas, apa yang harus dilakukan dengan “gambaran” tersebut?

Jawabannya adalah Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM). 

Polanya sederhana, yaitu kamu mengamati sebuah tulisan, menirunya, lalu memodifikasinya sesuai selera. Dan, begitulah kamu berhasil menyelesaikan tulisan pertamamu.

Berkat tak belajar teori atau ilmunya sama sekali, tentunya kamu bisa menulis apa pun tanpa dipatok oleh standar dari sebuah teori. Kamu bebas menulis topik-topik favorit atau tulisan-tulisan menarik dengan bahasa-bahasa dan cara-cara yang sesuai jati diri, tulus dari hati–yang mana ini berguna untuk menumbuhkan minat terhadap dunia tulis-menulis.

Selain itu, kamu harus berhadapan dengan masalah-masalah nyata yang memicu dirimu agar berpikir kreatif dan beradaptasi langsung pada situasi nyata demi memecahkan masalah tersebut.

Secara tidak langsung, pengalaman bikin kamu memahami berbagai teori yang belum pernah kamu pelajari sebelumnya.

Dengan sendirinya, kamu tahu cara menulis paragraf pembuka yang memikat, cara menyusun dialog yang luwes, cara mengedit tulisan, cara menyisipkan plot twist, dan sebagainya.

Kamu pun tahu apakah tulisan yang baru kamu bikin sudah bagus atau kurang memuaskan.

Akan tetapi, kalau kamu langsung praktek, kamu pasti sulit memecahkan masalah-masalah tertentu karena tak tahu dasar teorinya.

Kamu rentan mengulang-ulang kesalahan yang sama, punya waktu menulis yang molor, dan berprogres dengan lambat.

Kamu mungkin juga kurang percaya diri saat menulis karena ragu dengan kemampuanmu.

Oleh karena itu, seiring kamu praktek, kamu wajib mengimbanginya dengan belajar melalui berbagai sumber; seperti kelas online, buku, media sosial, YouTube, atau blog ini.

Jangan takut untuk langsung menulis meski belum pernah mempelajarinya.

Tulisan pertama yang ditulis tanpa teori pastinya sangat jelek, tapi tidak ada yang dirugikan dari artikel atau novel jelek. Malahan, kamu tahu bahwa tulisanmu jelek sehingga kamu termotivasi untuk mengembangkan keterampilan.

Orang yang menulis satu tulisan bagus pasti pernah bikin sembilan tulisan jelek.

Tulisan pertama boleh jadi banyak ejaan yang salah, tulisan kedua mungkin kalimatnya bertele-tele, tulisan ketiga barangkali ceritanya membosankan, tulisan keempat bisa jadi topiknya klise, tulisan kelima sudah bagus tapi belum menarik perhatian pembaca, dan seterusnya.

Perjalanan menulis yang jelek-jelek ini adalah proses mengasah insting dan keterampilan dalam upaya melahirkan tulisan bagus.

Belajar Dulu, Menulis Kemudian

“Manfaat pengetahuan hanya dapat diwujudkan dalam praktik.” – Swami Vivekananda.

Tidak ada salahnya bila kamu memilih belajar dulu sebelum praktek. Ini adalah langkah paling rasional untuk menguasai ilmu menulis. Dengan belajar, kamu mendapatkan teori, konsep, arah, serta pondasi untuk mengurangi risiko fatal saat menulis.

Belajar juga memberi kesempatan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin datang saat menulis, menumbuhkan kepercayaan diri karena kamu paham ilmunya dengan baik, serta meningkatkan fleksibilitas berkat banyaknya amunisi yang bisa diaplikasikan ke dalam tulisan.

Bahkan, dengan belajar, kamu tahu peluang-peluang karier yang bisa ditempuh oleh seorang penulis.

Jika kamu belajar lebih dulu, tentunya kamu punya bekal yang lebih banyak daripada orang-orang yang langsung praktek.

Masalahnya, sebuah ilmu hanya terlihat mudah sebagai teori, tapi sangat kompleks dalam praktek.

Ada kemungkinan kamu kesulitan mengaplikasikan ilmu tersebut ke dalam tulisan, apalagi ada banyak teori yang harus diterapkan. Jika teori itu tidak digunakan, kamu merasa tulisanmu jelek karena tidak sesuai standar yang ditetapkan oleh sebuah teori.

Ini barangkali bikin kamu overthinking, menyebabkan kamu terlalu berhati-hati dan takut bikin kesalahan saat menulis sehingga tulisanmu tak kunjung selesai. Padahal, untuk memahami dan menerapkan teori dengan baik, kamu butuh banyak jam terbang.

Apalagi, kamu harus bertemu dengan masalah-masalah nyata. Proses menulis dipenuhi oleh tantangan. Jika tantangan tersebut ada dalam sebuah teori, kamu mungkin bisa mengatasinya, tapi bagaimana kalau masalah itu tidak tercantum dalam teori?

Kamu tidak akan bisa bergantung pada sebuah teori lagi. Kamu pasti menemukan jalan buntu jika melakukannya. Satu-satunya cara mengatasi situasi itu adalah pengalaman (praktek).

Oleh karena itu, ketika kamu belajar menulis, kamu wajib mempraktekkan ilmu itu secepatnya.

Sekecil apa pun ilmu yang kamu miliki, praktekkan!

Jangan pernah menunggu punya segudang ilmu untuk mulai praktek. Ada banyak sekali ilmu menulis yang tak hanya wajib dipelajari, tapi harus dikuasai secara nyata, dan menguasainya bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Daripada kamu belajar sepenuhnya untuk menghasilkan tulisan bagus, sebaiknya langsung menulis dengan ilmu sedikit meskipun hasilnya jelek. Karya yang ditulis dengan sedikit ilmu pasti berakhir jelek, tapi ini adalah proses belajar untuk menghasilkan tulisan bagus.

Punya segudang ilmu tapi minim pengalaman sama dengan percuma. Itu seperti kamu membuang waktu dengan belajar penuh demi merangkai tulisan bagus padahal tetap jelek.

Tulisan yang bagus bukan hanya tercipta berkat ilmu dan teori, tapi juga pengalaman.

Nulis Dulu atau Belajar Dulu?

“Pengetahuan adalah harta karun, tetapi latihan adalah kuncinya.” – Thomas Fuller.

Memilih satu dari keduanya mungkin menimbulkan dilema.

Sebenarnya, tidak ada jawaban konkret untuk pilihan ini. Lagi pula, kenyataannya kamu tidak harus memilih salah satu.

Kalau keduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, lantas mengapa tidak memadukan keduanya?

Barangkali, pilihan ini lebih fleksibel dan efektif.

Untuk memudahkan kamu dalam mengombinasikan keduanya, kamu bisa mengikuti tiga tips berikut:

1) Menulislah dengan Bekal yang Ada

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jangan menunggu semua teori. Mulailah dengan menulis cerita sederhana atau topik yang kamu pahami.

Menunggu semua teori cuma bikin kamu sering menunda karena merasa tak cukup ilmu, padahal praktek menulis termasuk bagian dari proses belajar.

Sebagai contoh, ketika kamu kesulitan bikin cerpen pertamamu, cobalah menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Dengan modal emosi dan kejadian nyata, kamu bisa menciptakan cerita meski tanpa teori yang rumit. Seiring menulis, kamu bisa memahami bagaimana cara merangkai dialog, menyusun alur, hingga menyisipkan plot twist.

Tulisan pertama dengan modal seadanya mungkin tidak sempurna, tapi bukan berarti kamu gagal. Setiap penulis pasti pernah bikin tulisan jelek. Akan tetapi, tulisan jelek itu menjadi langkah pertamamu dalam mengasah keterampilan menulis yang akan tumbuh seiring belajar dan latihan.

2) Evaluasi Hasil Tulisanmu

Usai menulis, luangkanlah waktu untuk membaca dan mengulas hasil karyamu.

Usahakan kamu mengambil sudut pandang seorang pembaca, jadi kamu tidak punya kecenderungan untuk menyanggah kekurangan dari tulisanmu.

Lihatlah apakah paragrafnya bertele-tele, banyak typo, ceritanya kurang mengalir, atau dialognya terlalu kaku.

Jadikan segala kesalahan sebagai bahan pembelajaran. Kesalahan bukanlah tanda bahwa kamu tidak mumpuni, tapi harapan untuk tumbuh dan berkembang.

Selain itu, rajin-rajinlah minta feedback ke orang yang kamu percaya. Ambil kritik atau sarannya sebagai nasehat, bukan hinaan yang menyakiti hati. Ini juga menjadi sarana belajar supaya kamu tahu bagaimana hasil tulisanmu di mata orang lain.

Proses evaluasi juga berguna untuk melihat perkembangan tulisanmu dari waktu ke waktu. Ketika kamu tahu bahwa keterampilanmu meningkat, kamu semakin percaya diri saat menulis.

3) Belajar sambil Berjalan

Belajar menulis tidak hanya bisa dilakukan sebelum menulis. Kamu pun bisa melakukannya sambil menulis.

Saat menulis, jika kamu bertemu suatu tantangan, kamu bisa mempelajarinya dan mempraktekkannya. Misalnya, ketika kamu masuk proses editing, kamu bisa belajar teknik editing sekaligus menerapkannya. Dengan cara ini, teori yang dipelajari dapat dipahami dan diingat melalui praktek.

Atau, saat kamu menemui kebuntuan, kamu bisa berhenti menulis untuk belajar sejenak. Ini bikin kamu belajar materi yang relevan dan terfokus pada kebutuhanmu.

Belajar sambil berjalan pun tak akan menjebakmu pada teori yang kaku, tapi kamu akan menyesuaikan teori dengan situasi nyata yang dihadapi.

Sebagai penulis, kamu harus ingat bahwa dunia tulis-menulis mengalami perubahan yang cukup cepat, seperti halnya musik dan film. Ada genre baru, gaya menulis baru, hingga tren pembaca yang bergeser-geser. Dengan belajar sambil berjalan, kamu mampu beradaptasi dengan cepat dan tetap relevan.

Tidak ada cara yang benar atau salah antara menulis dulu atau belajar dulu. Keduanya saling melengkapi. Sesuaikan keduanya dengan kebutuhan dan proses yang paling nyaman.

Sekarang, usai membaca artikel ini, mana yang kamu pilih? Mau nulis dulu, belajar dulu, atau keduanya?

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *