Ngomongin dunia anime, Dragon Ball bukan hanya menjadi anime populer selama 4 dekade ini, tapi menjelma sebagai tren, inovasi, serta budaya pop yang sangat ikonis bagi berbagai kalangan.
Sejak melejitnya popularitas Dragon Ball yang pertama kali terbit pada 1986, Dragon Ball terus menelurkan sekuel-sekuel yang tak kalah populer; sebut saja Dragon Ball Z dan Dragon Ball Super. Di tahun 2024 kemarin, rilis sekuel barunya yang bertajuk Dragon Ball Daima.
Saking populernya Dragon Ball, anime ini menjadi template dan inspirasi sebagian besar anime shōnen populer seperti Naruto, One Piece, Bleach, dan masih banyak lagi.
Berkat anime karya mendiang Akira Toriyama ini, kita bisa melihat keunikan cerita anime shōnen, seperti karakter utama yang bodoh tapi kuat, guru tua mesum, karakter yang suka teriak-teriak, dan kekuatan yang punya evolusi.
Dengan segala kelebihannya, Dragon Ball menduduki posisi ketiga anime favorit saya sepanjang masa.
Akan tetapi, tepat di tahun 2018, muncul sebuah anime yang sukses melengserkan Dragon Ball dari posisi ketiga, namanya Gakuen Babysitters.
Anime ini bercerita tentang Kashima Ryuichi dan adiknya, Kashima Kotaro, yang kehilangan kedua orang tua akibat kecelakaan pesawat. Mereka kemudian diasuh oleh Morinomiya Youko, nenek kaya raya yang punya sekolah elit bernama Morinomiya Academy. Sebagai bayaran, Ryuichi wajib menjadi pengasuh anak di akademi tersebut. Dengan menerima tawaran itu, Ryuichi tak hanya bertanggung jawab atas Kotaro yang masih balita, tapi juga beberapa balita lain yang merupakan anak dari para guru.
Pertama kali membaca sinopsisnya, saya tak tertarik. Siapa cowok cemen yang betah dan suka nonton anime tentang cowok yang jadi babysitter?
Usai menonton musim pertama anime ini, ternyata saya-lah cowok cemen itu.
Jujur, saya susah berhenti nonton. Saya menonton di waktu luang dan di tengah kesibukan, baik itu lewat ponsel atau laptop. Gara-gara terlalu fokus maraton, saya enggak sadar tiba-tiba sudah menyelesaikan musim pertamanya.
Karena musim keduanya belum terbit, saya lanjut menikmatinya dengan maraton manganya.
Saya kira, obsesi saya terhadap Gakuen Babysitters adalah sesuatu yang lumrah mengingat ini termasuk anime bagus.
Rupanya, saat saya bercerita ke beberapa teman, muncul berbagai reaksi yang bikin saya kecewa.
Ada yang nyolot. Ada yang enggak terima. Ada yang anggap aneh. Ada yang ngejek. Ada pula yang enggak paham kenapa saya menyukainya.
Ketika saya mengaku bahwa saya lebih suka Gakuen Babysitters daripada Dragon Ball, saya langsung jadi samsak buat mulut sampah mereka.
Tanggapan mereka boleh dibilang wajar. Soalnya, banyak wibu (terutama teman-teman saya yang mulutnya sebusuk sampah itu) lebih suka anime action macam Dragon Ball, Naruto, atau Dandadan–di luar genre action, mereka suka banget anime hentai, harem, dan ecchi.
Apalagi, Gakuen Babysitters memang dikhususkan untuk penonton cewek mengingat kategorinya shōjo. Jadi, saat mereka tahu ada cowok yang suka anime cewek, mereka merasa ganjil.
Walaupun mewajarkan dengan reaksi mereka, hati saya tetap tergores.
Saya terpaksa menyembunyikan kecintaan terhadap Gakuen Babysitters di depan orang lain. Kalau ada yang tanya apa anime favorit saya, jawaban saya selalu berputar di anime-anime shōnen populer mulu. Padahal, tiap kali punya waktu luang, saya berkali-kali rewatch atau baca ulang Gakuen Babysitters.
Anehnya, semakin sering saya menontonnya, entah mengapa ada rasa untuk jujur kepada perasaan saya sendiri. Saya mendadak enggak mau menyembunyikan kecintaan saya lagi. Saya terdorong untuk mengatakan kepada dunia bahwa saya suka menonton Gakuen Babysitters.
Gejolak ini makin kuat setiap harinya, bikin saya gelisah kalau masih menyembunyikannya. Jika saya berusaha menahannya, gairah ini melawan, menghancurkan tembok yang saya bangun dengan susah payah. Dan, akhirnya saya menyerah.
Oleh karenanya, sekarang, di blog pribadi saya yang ada di internet dan bisa dibaca semua orang di dunia, saya menyatakan bahwa saya adalah cowok waras dan berakhlak mulia yang lebih suka Gakuen Babysitters ketimbang Dragon Ball!
Tentu, sebagai pembelaan diri, saya harus menyebut aspek-aspek yang bikin saya cinta mati dengan Gakuen Babysitters, yaitu plot cerita dan perasaan relate yang saya terima selama menontonnya.
Harus diakui, dibanding Gakuen Babysitters, Dragon Ball enggak ada apa-apanya. Bahkan, kalau semua seri Dragon Ball digabung pun masih kalah dengan anime tentang pengasuh balita itu.
Saya merasa lebih mudah terhubung dengan kisah-kisah para balita daripada para ahli bela diri yang sering melawan alien.
Saya pernah jadi balita dan banyak balita yang hidup di sekitar saya. Tapi, enggak ada orang yang pernah melawan alien. Semua yang ada di dunia Dragon Ball cuma fiksi di dunia nyata, kekuatan mereka cuma imajinasi, dan keberadaan alien belum jelas.
Saat terjadi konflik, hati saya lebih bersimpati kepada Taka-kun yang kehilangan pedang mainannya di pasar malam daripada Son Gohan yang kehilangan bapaknya gara-gara melawan alien yang bisa jadi monyet raksasa.
Sebagai orang yang sempat jadi balita, saya pernah menangis semalaman karena kehilangan mainan. Sakit banget rasanya, dan saya bisa memahami perasaan Taka-kun. Di sisi lain, saya enggak pernah lihat bapak-bapak tewas karena berantem melawan alien, apalagi alien yang bisa jadi monyet raksasa.
Tapi, kan, konflik di Dragon Ball lebih genting, bikin kita bersimpati pada para ahli bela diri yang harus melindungi bumi.
Iya, Dragon Ball memang menyajikan konflik yang menantang karena berisiko membahayakan dunia. Tapi, Son Goku dan kawan-kawan dibekali keahlian bertarung yang tak kalah mumpuni dibanding musuh-musuhnya.
Ada yang bisa Kamehameha. Ada yang bisa jadi Super Saiyan. Ada yang bisa bikin Spirit Bomb. Ada kacang yang bikin stamina pulih saat dimakan. Ada pula tujuh bola naga yang siap mengabulkan semua permintaan yang aneh-aneh.
Sebaliknya, Gakuen Babysitters hanya menghadirkan konflik-konflik receh di kehidupan sehari-hari. Tetapi, itu cuma remeh buat kita yang sudah remaja atau dewasa. Masalahnya, konflik-konflik remeh ini terasa sangat berat karena harus dihadapi oleh para balita yang otaknya belum berkembang sempurna.
Mereka belum sekolah. Mereka cuma bisa bengong. Mereka cengeng. Mereka belum bisa berpikir logis. Kasarnya, mereka bodoh!
Coba bayangkan, di tengah kekurangan sebanyak itu, Kotaro harus mengantar bekal makan siang kakaknya sendirian, Taka-kun harus memperbaiki hubungan dengan kakaknya, dan Kirin-chan harus membuktikan kepada balita lainnya bahwa penyihir ada di bumi.
Kisah-kisah sederhana Gakuen Babysitters ini lebih relate dan ngena di hati saya. Pengalaman emosional yang saya terima selama menonton tak jarang menjadi refleksi bagi saya sendiri, terutama soal menangani konflik dengan cara yang lebih dewasa, seperti para balita itu yang semakin dewasa seiring animenya berjalan.
Buat saya, obsesi terhadap suatu judul anime sejatinya adalah masalah selera belaka. Kalau saya bilang anime ini bagus, artinya ini bagus untuk saya. Jika saya bilang anime ini jelek, artinya ini jelek untuk saya. Apakah anime ini bagus atau jelek untukmu, itu urusanmu.
Jadi, kalau saya bilang Gakuen Babysitters adalah anime bagus, berarti itu hanya untuk saya. Selera saya tidak perlu dihakimi karena yang namanya selera adalah persoalan pribadi. Enggak ada yang namanya selera aneh, selera jelek, selera bagus, selera tinggi, atau selera sampah.
Terlebih, saat saya bilang lebih suka Gakuen Babysitters daripada Dragon Ball, bukan berarti saya anggap Dragon Ball jelek. Saya hanya lebih suka Gakuen Babysitters. Titik!
Ini sama seperti ketika saya enggak suka anime favoritmu. Bukan berarti saya bilang animenya jelek atau seleramu buruk. Artinya, anime favoritmu bukan selera saya. Titik!
Saya harap, entah kapan waktunya, orang-orang tidak berdebat soal selera anime lagi. Selain enggak ada untungnya, berdebat tentang selera anime juga enggak ada garis finisnya.
Selain itu, saya pun berharap tidak ada diskriminasi gender di dunia perwibuan. Semua cowok boleh menonton anime cewek dan semua cewek boleh menonton anime cowok. Ini adalah sesuatu yang lumrah, dan sekali lagi, soal selera.
Anime bagus adalah anime bagus, enggak tergantung target pasar atau kategori gender animenya.
Leave a Reply