Rehat Menulis Fiksi Sejenak

Usai menyelesaikan buku kumpulan cerpen berjudul Semanis Rasa Cherry (2024), saya rehat menulis cerpen atau kisah-kisah fiksi lainnya.

Saya nggak berhenti selamanya, hanya sejenak, dan akan lanjut menulis cerita fiksi dalam waktu dekat.

Atau, kalau ada yang mau bayar saya untuk menulis cerita fiksi, saya langsung terima. Siapa yang sudi menolak rezeki? Saya pasti mengecap rehat sebagai keputusan bodoh.

Sejujurnya, cerita fiksi adalah jenis tulisan favorit saya dalam menulis. Saya punya hobi menulis berkat merangkai kisah-kisah fiksi. Cerita pertama saya bertajuk Wanan: The Story of Cool Cool Boys, novel komedi tentang kehidupan Wanan sebagai remaja keturunan Arab di Indonesia. Saya menulisnya di bangku kelas 2 SMA dan mengunggahnya di Wattpad. Meskipun ceritanya absurd, banyak typo, struktur kalimatnya amburadul, dan plotnya jelek, ternyata cerita itu sukses menempati posisi dua genre komedi di Wattpad. Saya nggak tahu mengapa.

Wanan: The Story of Cool Cool Boys nggak pernah tamat karena saya stuck di tengah cerita. Wajar, saya menulisnya secara spontan karena iseng, tanpa tujuan yang jelas ke mana cerita itu harus dibawa, dan harus diakui persiapannya mentah. Saya bahkan belum punya ilmu menulis cerita fiksi sedikitpun. Daripada mengulang semuanya dari awal, saya arsipkan cerita itu dan beralih ke novel lain yang dipersiapkan dengan matang, judulnya Reptilia.

Dalam prosesnya, saya menulis satu bab tiap minggu. Setiap bab saya kirim ke teman saya untuk meminta ulasan mereka. Ada yang bilang bagus, ada yang bilang jelek, dan ada yang belum bisa menilainya. Saya menerima kritik, saran, dan pujian mereka. Meskipun masih belum dibekali ilmu menulis cerita fiksi, saya rupanya sanggup menulis hingga bab ketujuh.

Pada suatu malam, di tengah proses menulis, seorang teman mengirim poster lomba menulis cerpen lewat chat. Saya tertarik mengikutinya, tapi saya tak punya ide cerita dari tema di lomba itu, jadi saya pindah ke lomba lain yang memberi tema bebas.

Waktu itu, dengan kesombongan pada taraf tertentu, saya nekat bikin tiga cerpen untuk dikirim ke panitia, padahal deadline-nya sisa seminggu. Saya pikir, menulis cerpen punya beban yang lebih ringan ketimbang novel karena jumlah halaman tiap judul maksimal cuma lima. Tapi, ternyata bebannya tak jauh beda, dan tampaknya lebih berat.

Coba bayangkan, saya harus menulis cerita yang ngena di hati pembaca dengan jumlah kata dan halaman yang dibatasi. Jika menulis novel, tak ada batas jumlah halaman sehingga saya bisa membangun narasi panjang untuk mengikat hati pembaca pelan-pelan, tapi cerpen punya pendekatan yang berbeda, dan saya menyesal karena sudah meremehkannya.

Dengan sedikit ngotot, saya sukses menyelesaikan tiga cerpen itu dalam enam hari. Satu hari terakhir saya gunakan untuk merevisi dan mengirimnya ke panitia. Hasilnya? Ketiganya nggak masuk sepuluh besar, bahkan dua ratus besar aja enggak!

Seperti orang yang mau balas dendam, saya meninggalkan Reptilia dan menekuni cara menulis cerpen mati-matian untuk memerangi kebodohan di dalam diri saya.

Di momen inilah saya belajar cara menulis yang baik dan benar.

Saya membeli buku-buku tentang cara menulis. Saya ikut berbagai kelas menulis. Saya membeli buku kumpulan cerpen dari para penulis jempolan. Saya pun mempraktekkan ilmu tersebut ke dalam cerpen buatan saya.

Setiap saya menulis satu cerpen, saya merasa punya perkembangan yang bagus. Semakin banyak cerpen yang saya tulis, saya semakin berkembang.

Tentu, perkembangan ini terjadi bertahap. Dalam prosesnya, saya pun melakukan kesalahan-kesalahan penulis pemula; seperti mengandalkan mood, menulis sambil mengedit, lebih banyak tell ketimbang show, meniru gaya penulis favorit, terlalu perfeksionis, bikin kalimat yang tak efektif, dan masih banyak lagi.

Kesalahan-kesalahan ini bikin waktu untuk menulis satu cerpen jadi molor. Contohnya, saya pernah menulis cerpen sepanjang 4 halaman dalam 3 bulan. Buang-buang waktu banget, kan?

Selain itu, saya tak sadar bahwa saya menulis beberapa cerpen dalam keadaan stres karena saya ngotot menulis cerita yang bagus meski kemampuan belum mumpuni.

Meskipun terdengar merugikan, saya tak pernah menyesali kejadian di atas, saya menganggapnya sebagai pengalaman yang bagus demi kebaikan saya. Lagian, skill saya makin berkembang gara-gara pengalaman itu.

Kira-kira, saya baru bisa menulis cerpen dengan baik sejak 2023. Saya sanggup menulis satu cerpen dalam kurun waktu dua hingga lima hari (belum termasuk riset dan plotting). Tak ada stres, minim kesalahan, dan cerpennya ngena ke hati pembaca.

Di tahun 2024, saya menulis cerpen berjudul Lampu Merah Lampu Hijau. Cerpen ini terinspirasi dari kesulitan teman-teman saya untuk mendapat pekerjaan usai meraih gelar sarjana. Ketika cerpen itu selesai, saya membuka daftar cerpen karangan saya dan menemukan jumlahnya sudah mencapai puluhan. “Wah, banyak juga, ya. Enaknya diapain, nih, biar gak mubazir?” batin saya.

Akhirnya, saya mengumpulkan cerpen-cerpen yang bagus dalam satu buku bertajuk Semanis Rasa Cherry (2024). Saya tak berniat menjadikannya barang dagangan, jadi saya mengunggahnya ke situs Gramedia Writing Project agar bisa dibaca semua orang secara gratis.

Apakah ini akan menjadi rezeki bagi saya, saya tak tahu, tapi saya penasaran ke mana angin membawa saya melalui kumpulan cerpen itu.

Usai mengunggahnya, entah mengapa saya merasa butuh sesuatu yang baru. Rasanya, kepala ini perlu diservis sebentar agar kembali segar. Mungkin, saya tak sadar sudah berhasil balas dendam atas kebodohan saya dulu–selama belajar menulis cerpen, saya terlalu fokus hingga lupa bahwa saya punya niat balas dendam. Misi selesai dan saya harus menyelesaikan misi lain, menulis sesuatu yang baru.

Dalam lamunan malam, saya menemukan sebuah ide, yaitu menulis tulisan nonfiksi.

Sejujurnya, selama ini saya enggan menulis tulisan nonfiksi. Saya cenderung suka kebebasan dalam menuang imajinasi saat menulis, dan itu hanya bisa diraih melalui tulisan fiksi. Lagi pula, tulisan nonfiksi punya beban yang lebih besar karena setidaknya saya harus melampirkan data-data yang valid. Tidak boleh asal menulis informasi. Membayangkan diri saya terbenam pada ratusan data, kelihatannya mengerikan.

Akan tetapi, apa yang mendorong saya untuk menyetujui ide itu adalah pengembangan diri. Saya ingin menjadi penulis yang serba bisa, jadi saya harus belajar menulis jenis tulisan apa pun, bahkan jika saya tidak menyukainya. Harapannya, dengan kemampuan yang lebih banyak, saya bisa memberi kontribusi yang berdampak lebih besar bagi masyarakat.

Melalui eksplorasi kecil-kecilan, saya menemukan jenis tulisan nonfiksi yang simpel tapi populer, yaitu artikel.

Saya berkunjung ke berbagai media daring yang menyediakan akses bagi semua orang untuk menjadi penulis lepas; sebut saja Milenialis, Mojok, Baca Petra, Janang, IDN TIMES, dan sebagainya. Saya pelajari gaya tulisan dari tiap media, serta memahami panduan menulisnya.

Esoknya, saya menulis satu topik artikel dengan gaya menulis yang berbeda-beda, sesuai ciri khas dari tiap-tiap media. Semuanya saya kirim di hari yang sama. Beberapa hari kemudian, hanya IDN TIMES yang menerbitkan tulisan saya. Jadi, saya mulai aktif menulis di IDN TIMES sejak hari itu.

Ternyata, pengalaman sebagai penulis di IDN TIMES menumbuhkan kecintaan saya pada tulisan nonfiksi. Apalagi, di IDN TIMES saya boleh menulis artikel dengan gaya kasual layaknya obrolan sehari-hari, serta bebas menulis topik-topik favorit saya, yaitu anime dan film.

Biasanya, saya bicara soal anime dan film di tongkrongan. Berhubung saya dan teman-teman mulai jarang nongkrong akibat kesibukan masing-masing, menulis di IDN TIMES sukses meredakan hasrat saya untuk ngobrolin anime dan film bareng orang lain. Bahkan, saya menghasilkan pundi-pundi rupiah, waktu yang saya buang untuk maraton anime dan film nggak berakhir sia-sia.

Saya masih layak disebut pemula sebagai penulis nonfiksi, jadi ada banyak ruang untuk mengembangkan keterampilan saya. Saya pun belum puas dengan semua yang sudah saya pelajari. Demi menjadi penulis yang serba bisa, saya tak boleh setengah-setengah. Saya bodoh dan perlu belajar lagi, lagi, dan lagi. Belajar terus sampai mampus!

Sebagai penutup, meski saya rehat menulis cerita fiksi, saya tetap mencatat ide-ide kisah fiksi yang muncul di kepala. Saya merangkainya pelan-pelan agar ceritanya berkembang walau saya belum menulis. Saya tak sabar menulis semuanya!

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *