Gara-gara lagu ALIVE karya Raiko mendadak terputar di Spotify, saya teringat teman-teman masa kecil saya. Lagu yang menjadi OST anime Naruto ini pertama kali saya dengar di kala maghrib saat Naruto berakhir. Dulu, saya cuma menganggapnya sebagai lagu yang bagus. Sekarang, ALIVE menjadi pintu keluar bagi kenangan saya tentang masa itu untuk menyentil titik tergundah di hati saya.
Saya masih bocil kematian di masa itu, belum punya rencana masa depan maupun tanggungan hidup. Saya hanya hidup untuk bermain dan bermain untuk hidup. Nggak ada, tuh, mikirin soal manajemen finansial, kenaikan pajak, kesenjangan sosial, carut-marut ekonomi, hukum yang tumpul ke atas, atau situasi politik negara.
Saya ingat betul momen main bersama teman-teman saya ini. Kami suka bermain di ruang teve rumah saya. Meskipun banyak barang jadul, aromanya kadang aneh, udaranya sering lembap, dan banyak gigitan nyamuk, saya betah menyaksikan mereka beraksi di layar teve tabung abu-abu.
Saat mendengar ALIVE, saya mulanya hanya mengingat Uzumaki Naruto. Semakin lama saya merenung, teman-teman masa kecil saya yang lain memaksa saya untuk mengingat mereka. Alhasil, saya terjaga semalaman.
Mari saya perkenalkan lima teman masa kecil saya.
1. Naruto
Naruto adalah teman terdekat saya di masa kecil. Dia tayang hampir setiap hari, setiap jam 4 sore (atau jam 5 sore, ya?), dan kebetulan itu adalah waktu saya bangun dari tidur siang.
Saya bersyukur punya umur panjang sehingga bisa menemani Naruto dari seorang bocil kematian yang suka corat-coret patung Hokage sampai jadi Hokage terkuat yang dikagumi banyak orang.
Saking dekatnya dengan Naruto, saya pernah beli jaket khas Naruto di mal. Saya pakai jaket itu setiap hari untuk pamer ke teman-teman saya. Untuk melengkapi penampilan, saya pun beli ikat kepala Konohagakure–kalau ini terjadi di zaman sekarang, saya pasti sudah dianggap cosplayer.
Penampilan Naruto saya ini tak hanya berguna untuk berkata kepada dunia bahwa saya adalah penggemar Naruto yang paling radikal, tapi juga memudahkan saya untuk jadi Naruto kalau main “Naruto-naruto-an” bareng tetangga.
“Pokoknya aku yang Naruto,” kata saya, dalam keadaan memakai jaket Naruto dan ikat kepala Konohagakure.
Seperti semua bocil yang suka menonton Naruto di masa itu, saya pernah bersikeras berlatih Rasengan, jurus andalan Naruto.
Saya tak bermaksud aneh-aneh. Tapi, coba bayangkan bila saya yang berpenampilan mirip Naruto ini juga bisa melakukan Rasengan. Keren, kan?
Di kamar mandi, saya memutar dan memusatkan chakra di telapak tangan agar membentuk sebuah bola. Ratusan kali mencoba, saya selalu gagal.
Teman saya bilang dia berhasil melakukannya. Saya percaya ucapannya meski dia selalu mengelak kalau disuruh praktek. “Kekuatan ini bukan buat pamer,” katanya dengan bijak. Maka, saya minta dia jadi guru saya untuk melakukan Rasengan.
Saya coba saran-sarannya, dan seperti biasanya, saya gagal. Saya sempat protes ke dia karena saya curiga dia memberi saran palsu. Dia jawab, “Kamu harus latihan lebih keras. Naruto aja latihannya lama, apalagi kamu!”
Itu alasan yang masuk akal, tapi saya masih belum bisa melakukan Rasengan sampai sekarang. Ada yang mau ngajarin saya?
2. One Piece
Boleh dibilang saya tumbuh bersama One Piece sejak saya mengenal tulisan hingga bisa bermain-main dengan tulisan seperti sekarang. Anime yang muncul di tahun 1999 ini belum ada tanda-tanda tamat meskipun sudah memasuki Final Saga.
Saya lebih akrab dengan manganya ketimbang animenya. Seingat saya, dulu jam tayang One Piece bentrok dengan waktu bermain saya di luar rumah, jadi saya lebih sering mengabaikannya. Tapi, kalau kebetulan saya di rumah dan ada One Piece di teve, saya tidak akan pernah mengganti channel.
Di masa kecil, saya tidak bisa memahami plot cerita One Piece, tapi saya suka adegan berantem dan kekuatan para karakternya. Karakter favorit saya adalah Roronoa Zoro. Dia pengguna teknik tiga pedang; satu di tangan kanan, satu di tangan kiri, dan satu lagi di mulut. Zoro adalah kru pertama Monkey D. Luffy.
Saya ingat sebuah adegan saat Zoro diminta mengepel markas Angkatan Laut gara-gara merusak kacamata Tashigi. Dengan cekatan, dia menggunakan tiga pel supaya cepat selesai. Saya sempat mempraktekkan itu saat piket kelas. Hasilnya, gigi depan saya hampir copot.
Dulu saya baca manganya di website penyedia manga bajakan–jangan ditiru, dulu saya tak tahu kalau ini adalah tindakan berdosa. Usai baca, saya mampir komunitas pecinta One Piece di Facebook untuk baca ulasan keren dan ngaco dari para penggemar. Kadang-kadang, ada debat kusir antar penggemar karena mereka punya persepsi berbeda soal bab terbaru One Piece yang barusan mereka baca.
Gara-gara One Piece, saya sulit menemukan manga lain yang punya kompleksitas serupa. Manga ini tak hanya fokus pada cerita protagonis, tapi juga kisah-kisah karakter sampingan yang mempengaruhi plot cerita utama. Plot ceritanya juga merekam kejadian-kejadian di dunia nyata; sebut saja perbudakan, rasisme, perang, dan seterusnya.
Saya pun menemukan banyak pelajaran berharga dari One Piece yang saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Manganya sudah mirip kitab suci meski saya tidak mengimaninya–lebih pantas disebut buku pengembangan diri, mungkin?
Saya sudah menemani Naruto sampai jadi Hokage, dan sekarang saya ingin bantu Monkey D. Luffy menjadi Raja Bajak Laut. Saya tidak boleh mati sebelum itu terjadi!
Omong-omong, saat muncul pengumuman bahwa One Piece bakal masuk ke Final Saga beberapa tahun lalu, saya buru-buru memborong manga One Piece dari volume awal hingga terbaru (vol. 99). Untungnya semua mulus, cuma ada sedikit goresan. Sampai sekarang saya masih mengoleksi volume terbarunya.
3. Kamen Rider
Saya adalah satu dari sekian banyak cowok yang bercita-cita menjadi Kamen Rider.
Armor keren, ikat pinggang canggih yang juga keren, pose-pose yang tak kalah keren, dan jurus-jurus yang sudah pasti keren adalah alasan yang lebih dari cukup untuk bikin saya bercita-cita menjadi Kamen Rider.
Saya menonton semua serial Kamen Rider yang tayang di Indosiar tiap Minggu pagi; ada Kamen Rider Kuuga, Kamen Rider Faiz, Kamen Rider Blade, dan sebagainya. Saya memang tidak menonton Kamen Rider terbaru, tapi saya masih mengikuti perkembangan Kamen Rider lewat berita.
Saya paling suka Kamen Rider Ryuki. Di serial ini, ada 13 Kamen Rider berbeda. Tapi, bukannya bertarung melawan monster, tiga belas Kamen Rider ini malah terjebak di Perang Rider sehingga mereka harus saling membunuh. Kamen Rider terakhir yang masih hidup akan mendapatkan satu permintaan.
Tiap kali menonton Kamen Rider, saya berharap punya Henshin Belt mereka supaya saya juga bisa berubah jadi Kamen Rider. Dulu, sering kali saya berimajinasi punya alat itu, lalu berpose keren dan berteriak, “BERUBAH!” Tentunya, imajinasi semacam itu tidak pernah senikmat realitas.
Di zaman sekarang, Henshin Belt Kamen Rider dijual di mana-mana. Saya, sih, berencana beli satu, tapi saya tunda karena takut ketagihan. Entah kapan waktunya, saya pasti beli salah satu Henshin Belt Kamen Rider.
Setidaknya, untuk satu kali di hidup saya, saya ingin merasakan jadi Kamen Rider. Tidak perlu jadi Kamen Rider sungguhan. Selama saya bisa merasakan sensasinya, itu sudah cukup.
4. Captain Tsubasa
Saya cukup beruntung karena hidup sebagai Gen Z yang disuguhi anime Captain Tsubasa original yang pertama kali rilis tahun 1983. Meskipun saya menonton semua remake anime Captain Tsubasa, saya masih menganggap versi originalnya sebagai yang terbaik.
Tsubasa Ozora mempengaruhi saya dan teman-teman untuk menyukai sepak bola. Kutipan andalannya, “Bola adalah teman,” bikin kami suka bawa bola ke mana pun kami pergi. Alasannya? Kami ingin jago main sepak bola, seperti Tsubasa Ozora.
Kebiasaan ini tentunya ditentang oleh orang tua saya, terutama karena saya selalu ngotot bawa bola di situasi-situasi yang kata mereka tidak tepat, salah satunya ke acara pernikahan saudara.
Dulu, sih, saya marah besar karena larangan mereka. Sekarang, saya sadar bahwa saya hampir bikin mereka malu di depan keluarga besar.
Kenangan paling memorable saya tentang Tsubasa adalah setiap sore teman saya rutin menendang bola ke gawang sendirian. Saat saya tanya dia sedang apa, dia jawab, “Latihan Drive Shot (tendangan super andalan Tsubasa).”
“Wah, keren. Aku jadi kiper, ya!” balas saya.
Saya tidak terlalu mengidolakan Tsubasa, hanya suka semangatnya untuk meraih impian. Saya justru menyukai Ken Wakashimazu, kiper utama Toho Academy. Saya tidak mengidolakannya karena nama kami mirip, tapi gara-gara Tsubasa tampak tak berguna di hadapannya.
Saya pun terpikat jadi kiper supaya bisa melihat wajah frustrasi lawan jika tendangannya saya tangkis dengan mudah. Hingga sekarang, saya selalu jadi kiper kalau diajak main futsal dan sepak bola.
Omong-omong, saya pernah jadi satu-satunya kiper yang dianugerahi MVP di lomba futsal sekolah, lho. Keren, ya!
5. Ultraman Cosmos
Kalau ditanya siapa pahlawan saya di masa kecil, saya akan jawab Ultraman.
Dulu, saya punya berbagai CD (Compact Disc, bukan Celana Dalam) Ultraman yang saya putar berkali-kali sampai rusak. Biasanya saya nonton sambil berpose dan berlagak seperti Ultraman, lalu menyerang monster imajinasi di depan saya dengan Ultra Beam.
Dari semua Ultraman, Ultraman Cosmos adalah yang paling spesial di hati saya. Saya suka spandeks birunya yang ikonis, host-nya yang baik hati, dan semua form kerennya.
Entah mengapa saya masih punya ingatan tentang Ultraman Cosmos, berbeda dengan Ultraman lain yang sudah saya lupakan, padahal saya menonton mereka di umur yang tak jauh beda. Apa pun artinya, saya yakin Ultraman Cosmos punya pengaruh yang besar di masa kecil saya.
Yang keren dari Ultraman Cosmos adalah dia tak selalu membunuh musuh-musuhnya, tapi malah kerap memurnikan kejahatan di hati mereka (atau lebih akrab disebut Siraman Rohani). Bahkan, dalam pertarungan, Ultraman Cosmos bertarung dengan cara yang lembut agar tidak melukai musuh. Ultraman Cosmos baru membunuh lawan-lawannya jika mereka tidak mempan dengan Siraman Rohani-nya.
Saya pun masih familiar dengan OST dari serial ini, yaitu Spirit dan Kokoro no Izuna. Melodi kedua lagu itu kerap terngiang-ngiang di kepala saya. Tiap kali dua lagu itu muncul, saya sulit lepas dari rasa sedih.
Ketika mengingat teman-teman masa kecil saya ini, saya pun teringat masa kecil saya yang begitu indah, terlalu indah hingga itu bisa melukai perasaan saya.
Meski saya bahagia telah tumbuh bersama mereka, saya masih ingin bermain bersama mereka sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Sesekali, saya menonton mereka dari awal. Saya membayangkan diri saya sebagai bocah kecil dan mengubah kamar saya menjadi ruang teve tempat kami bermain. Dengan begitu, saya berharap bisa merasakan momen saat bersama mereka di masa itu. Namun, saya tidak pernah merasakannya.
Ini bukan berarti saya merindukan mereka, ya. Hanya saja, saya ingin ditemani oleh mereka lagi, karena dulu saya selalu nyaman saat bersama mereka.
Dengan mengingat mereka, saya sadar bahwa saya sudah meninggalkan masa kecil saya terlalu jauh.
Meski saya berusaha mengembalikan momen di masa itu, pada akhirnya waktu akan memudarkan momen itu dari hidup saya. Dan, memang begitulah sifat sang waktu. Saya dipaksa meninggalkan sebuah masa yang begitu indah untuk melangkah ke arah yang lebih baik dan lebih berat.
Leave a Reply