Sambal

Seperti kebanyakan orang Indonesia, saya adalah penikmat sambal. Apalagi, sejak masuk bulan Februari ini, setiap hari saya makan sambal. Pagi, siang, malam–selalu ada sambal di piring saya. Tiada hari tanpa sambal. Hari tanpa sambal artinya hari kiamat.

Di piring saya, sambal menjadi pemeran utama, berjuang menghibur lidah bersama para figuran–nasi hangat, lauk gurih, dan sayur segar. Performa mereka layak masuk nominasi Oscar, tapi kalau ada kameo seperti petai, gereh, atau teri; hidangan ini layak disebut absolute culinary!

Saya makan sambal setiap hari karena saya malas makan. Bagi saya, makan itu kegiatan yang buang-buang waktu. Dua puluh empat jam terasa kurang untuk memenuhi kegiatan harian, dan selain jam tidur, makan cuma mempersempit waktu saya.

Kenapa saya bilang begitu? Alasannya, makan harus dilakukan dengan khidmat, dilarang melakukannya bareng kegiatan lain. Padahal, saya sulit lepas dari pekerjaan bila sudah terbawa arus kerja. Bila pekerjaan belum kelar dan jam makan tiba, pikiran saya terbagi menjadi dua, sementara tangan saya berusaha pergi ke laptop daripada piring.

Tetapi, saya harus makan. Tanpa makan, saya sulit bekerja dengan baik. Makanya, saya makan sambal karena bikin saya makan lebih cepat.

Tanpa sambal, saya kesulitan makan dengan khidmat. Tak jarang saya berhenti karena isi kepala beralih pada pekerjaan, dan berakhir dengan waktu makan yang makin molor. Tetapi, bila makan dengan sambal, kepala saya tertuju pada satu hal: makanan.

Kenikmatan tiada tara dari sambal mendorong adrenalin untuk melahap makanan tanpa jeda. Sekali masuk mulut, segala jenis kelezatan langsung menari-nari di lidah. Untuk mempertahankan kenikmatan ini, saya harus melahapnya lagi dan lagi. Tahu-tahu, piring kosong seketika, dan saya bisa kembali bekerja dengan hati gembira.

Karena rasanya enak, cukup mengherankan bahwa sambal diracik dengan cara yang sederhana. Cukup siapkan bahan, cobek, dan ulekan. Lima menit kemudian, sambal siap disantap.

Tetapi, jangan tertipu oleh kesederhanaannya. Meski sederhana, sambal berperan krusial dalam memperkaya dan memperkuat rasa hidangan, mengubah makanan biasa terasa seperti buatan koki bintang lima.

Harus diakui, rasa sambal itu overpower. Meski dimakan sedikit, rasa langsung meledak di mulut. Kalau kebanyakan, mulut tak kuat menahan rasanya. Tapi anehnya, kita tak berhenti memakannya hingga tuntas. Kenikmatan sambal terlalu sulit diabaikan, bikin makanan kita terasa kurang nikmat.

Selama Februari ini, saya berkreasi dengan sambal. Saya meracik berbagai jenis sambal: sambal bawang, sambal terasi, sambal hijau, sambal matah, hingga sambal dabu-dabu. Setiap sambal punya ciri khas masing-masing, tapi bisa diramu dengan sederhana. Rasanya pun enak. Saya kagum dengan bagaimana sambal-sambal ini beradaptasi dengan budaya di daerahnya. Dengan berbagai perubahan yang menimpa mereka, sambal-sambal ini tak kehilangan jati diri. Tetap pedas dan membara!

Sampai hari ini, saya belum melalui satu hari pun tanpa makan sambal. Meski mulanya tak diniatkan untuk menjadi rutinitas, makan sambal pelan-pelan menjelma sebagai salah satu kebiasaan saya.

Saya suka dengan bagaimana sambal membahagiakan hati saya dengan cara yang praktis dan simpel. Setiap hari, saya punya alasan dan waktu untuk merasa bahagia. Setiap hari, tiap bangun tidur, saya tahu bahwa hari ini saya akan bahagia saat jam makan tiba.

Tanpa disadari, hal kecil dan sederhana seperti sambal bisa memercik kebahagiaan di hati, menggoda saya untuk mencari dan menikmati pedasnya lagi. Sekali dimakan, sulit untuk berhenti. Kalau ditinggalkan, hidup rasanya kehilangan esensi. Tak ada lagi yang memberi sensasi kepedesan lagi.

Saya tak menyangka, dengan kesederhanaannya, sambal berperan krusial sebagai sumber kebahagiaan.

Dalam hidup, hal-hal sederhana seperti sambal rupanya punya keistimewaan yang jauh dari kata sederhana.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *