Ibadah Wajib Seorang Nakama

Hari yang spesial ini akhirnya tiba. Komik One Piece vol. 107 sudah terbit dan menghiasi rak toko buku favorit kita! Segera mandi dan kenakan pakaian. Meluncur ke toko buku dan rebut komiknya sebelum kehabisan. Jangan ragu menghamburkan gaji kalian demi komik One Piece yang mulia!

Bagi seorang wibu, mengumpulkan komik tak hanya menjadi hobi, tapi ibadah wajib. Apalagi, saya adalah Nakama (sebutan penggemar One Piece) sejati, mengabaikan komik One Piece yang baru terbit adalah dosa besar yang patut dihindari.

Sore ini, saya pergi ke Gramedia. Saya mengendarai motor dengan senyum lebar, membayangkan diri saya merogoh kocek demi komik favorit saya.

Setibanya di tujuan, saya segera menghampiri rak komik. One Piece vol. 107 tersusun rapi di baris depan bersama komik One Piece lainnya, seolah-olah sengaja menunggu saya untuk memesannya. Saya bisa mendengar permintaan mereka, menjerit-jerit kegirangan karena bakal dipinang oleh Nakama favorit mereka. Dengan riang, saya mengambilnya dan menyerahkan uang di kasir, lalu pulang. Ibadah yang begitu cepat dan khidmat, terlalu mudah untuk ditinggalkan.

Biasanya, saat tidak membeli komik One Piece, saya berkeliling ke semua rak meskipun sudah mendapatkan buku yang dicari. Saya merasa belum puas. Bila menemukan satu atau dua buku lain, kepuasan itu baru terpenuhi. Tetapi, satu komik One Piece selalu melengkapi kepuasan saya, menjadi alasan untuk tidak mencari hati yang lain.

Di perjalanan pulang, saya sulit meredam senyum di wajah. Tak sabar rasanya meletakkan komik baru saya di rak koleksi. Saya membayangkan bagaimana komik baru ini melengkapi koleksi saya. Jari saya bahkan terus memencet ransel, memastikan harta karun ini masih ada di sana dengan aman.

Saya buru-buru masuk ke kamar setibanya di rumah. Saya mengambil komik itu dari ransel. Tanpa membuka segel plastiknya, saya membaca sinopsis di sampul belakang, lalu memandangi desain sampul depan yang begitu menawan. Entah berapa lama saya menatapnya dengan penuh kekaguman. Usai merasa puas, saya menaruhnya di rak koleksi, tepat di sebelah komik One Piece vol. 106 yang saya pinang berbulan-bulan lalu.

Lho, kok ndak dibaca, Ken?

Saya memang tidak pernah membaca komik-komik One Piece saya yang tercinta. Saya sudah tahu ceritanya karena membaca secara digital. Setiap bab terbit seminggu sekali, kecuali bila ada libur. Kalau mau baca ulang, saya pasti pergi ke aplikasi MANGA Plus, bukan komik-komik saya.

Kebiasaan ini memang tampak seperti buang-buang uang. Buat apa beli komik tapi tidak dibaca? Pertanyaan ini juga ditanyakan oleh orang-orang terdekat saya. Apalagi, saya tidak pernah membuka segelnya, jadi komik ini seolah-olah dibeli untuk diabaikan.

Harus diakui, saya memang beli komik One Piece bukan untuk dibaca. Saya membelinya karena cinta. Kamu pasti pernah jatuh cinta pada seseorang dan ingin memilikinya di hidupmu, kan? Seperti itulah perasaan saya kepada One Piece.

Saya tentu tidak bisa memiliki One Piece sepenuhnya. One Piece hanya dimiliki Oda-sensei. Namun, setidaknya, saya ingin memiliki sebagian dari One Piece yang memang diberikan kepada penggemar. Membeli komik cetak adalah salah satu cara memilikinya. Saya membelinya dengan legal sebagai harta benda, yang berarti hak miliknya berada di tangan saya, dan saya bisa menuntut orang yang berani mencurinya.

Alasan lainnya adalah saya terlanjur nyemplung.

Saya memang berhasrat mengumpulkan komik One Piece sejak bocil, tapi semuanya terhalang oleh kondisi finansial. Kira-kira, empat atau lima tahun lalu, Oda-sensei mengabarkan bahwa One Piece akan memasuki Final Saga. Artinya, tak lama lagi One Piece bakal tamat. Kalau saya tidak segera membeli komiknya, harga komik lawas yang mulai langka mungkin melonjak dari harga aslinya. Makanya, mumpung ada rezeki, saya langsung checkout dari vol. 1 hingga vol. 99.

Dari 99 komik yang datang, vol. 71 sampai vol. 99 masih tersegel rapi. Kalau segelnya dibuka, kondisinya masih seperti baru, padahal sudah rilis sejak bertahun-tahun lalu. Oleh karenanya, saya tak berniat membuka segel komik One Piece yang saya beli di kemudian hari. Biarlah itu tersegel agar keawetannya terjaga.

Kalau saya berhenti mengoleksi komik One Piece sekarang, rasanya seperti menghentikan petualangan di tengah jalan. Dari One Piece, saya belajar untuk berkomitmen dalam setiap petualangan. Saya harus menyelesaikan apa yang saya mulai, seperti Monkey D. Luffy dan kawan-kawan yang tak pernah berniat untuk berhenti sebelum mencapai garis finis.

Selama One Piece masih berlayar, saya akan menanti setiap volume barunya dengan cinta dan antusiasme yang sangat besar. Dengan senang hati, saya pasti menyisihkan uang untuk membeli setiap volume baru yang terbit di tahun-tahun mendatang. Semoga Oda-sensei senantiasa diberkahi kesehatan agar selalu mendampingi saya dan miliaran Nakama lainnya untuk menyelesaikan petualangan yang luar biasa ini.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *