Pernahkan kamu merasa risih saat membaca tulisan orang lain?
Padahal, isi tulisannya menarik dan insightful, tetapi ada sesuatu yang bikin pengalaman membacamu tak nyaman.
Di tengah antusiasme saat membaca, kamu mendadak bingung, kehilangan minat, hingga akhirnya kamu tak menyelesaikan bacaanmu.
Artinya, ada kesalahan dalam tulisan tersebut.
Sebenarnya, menulis bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tapi juga membuat orang-orang nyaman saat membaca.
Akan tetapi, tak jarang penulis melakukan berbagai kesalahan yang bikin pembaca risih. Kesalahan-kesalahan itu terlalu kecil atau sepele sehingga tidak disadari.
Apabila kamu adalah penulis, kamu tentu tidak mau kehilangan pembacamu.
Oleh karena itu, bikin pembacamu nyaman dengan menghindari 5 kesalahan sepele berikut ini.
1. Typo
Typo adalah kesalahan mengetik atau menulis sebuah teks.
Meskipun tampak remeh, typo adalah kesalahan yang amat mengganggu pembaca.
Saat bertemu typo, pembaca kehilangan fokus dan ritme karena harus berhenti untuk memahami arti sebenarnya.
Dampak terburuk dari typo adalah miskomunikasi, terutama bila typo mengubah makna kalimat secara total.
Contoh:
- Ibu membeli sawi di pasar.
- Ibu membeli sapi di pasar.
Baik “sawi” dan “sapi” memang kata yang ada di KBBI. Tidak ada kesalahan dari dua kata itu.
Tetapi, kalau kamu mengetik “sapi” padahal maksudnya “sawi”, maka makna kalimatnya berubah sepenuhnya.
Pada kalimat sederhana seperti dua contoh di atas, mungkin dampaknya memang terkesan remeh. Namun, coba bayangkan bila kamu melakukan typo saat menulis sesuatu yang melibatkan data-data krusial dan berkaitan dengan politik, budaya, atau topik-topik penting lainnya?
Tulisanmu pasti melenceng dari kebenaran, menyebabkan banyak orang salah mengartikan tulisanmu.
Oleh karena itu, baca kata demi kata sebelum mengirim tulisan.
Jangan meninggalkan typo meski itu hanya satu. Selain bikin pembaca terganggu, typo juga mengurangi kredibilitasmu sebagai penulis.
Jangan sampai masalah sepele ini bikin kamu tidak dilirik pembaca maupun klien lagi.
2. Kalimat yang Bertele-tele
Kalimat bertele-tele umumnya memakai banyak kata untuk menyampaikan sebuah pesan.
Meskipun kalimat bertele-tele kerap dimaksudkan untuk memberi detail, bukan berarti pembaca merasa nyaman saat membaca kalimat yang panjang.
Pembaca adalah orang yang cepat bosan, buru-buru, dan suka penjelasan yang to the point.
Kalimat bertele-tele hanya mengurangi minat mereka untuk menyelesaikan bacaan, serta membuang-buang waktu mereka.
Parahnya, kalimat bertele-tele cenderung tidak menjelaskan maksud sebuah pesan secara langsung, tapi berputar-putar ke berbagai arah dulu sebelum tiba di intinya.
Sebenarnya, kalimat bertele-tele hanya masalah jam terbang. Seiring kamu rajin menulis, instingmu dalam menulis pesan dengan lebih singkat pasti makin terasah.
Satu-satunya cara untuk menghindari kalimat bertele-tele adalah latihan.
3. Penggunaan Tanda Baca yang Salah
Seperti typo, penggunaan tanda baca tampak sepele, tapi berdampak besar pada sebuah tulisan.
Setiap tanda baca punya fungsi masing-masing sehingga harus digunakan sesuai fungsinya. Selain itu, gunakanlah tanda baca di tempat yang tepat.
Penggunaan tanda baca yang salah menyebabkan pembaca terganggu karena bingung mengartikan maksud penulis. Kesalahan ini kerap mengubah makna kalimat sehingga berisiko memicu kesalahpahaman.
Contoh:
- Kita butuh Rendi, seorang MC, dan musisi.
- Kita butuh Rendi, seorang MC dan musisi.
Dua kalimat di atas sekilas memang mirip dan tidak ada kesalahan, tapi penggunaan (,) sudah mengubah total makna dua kalimat itu.
Kalimat pertama menyebut tiga karakter terpisah (Rendi, MC, dan musisi), sedangkan kalimat kedua menyebut satu karakter saja (Rendi).
Hanya ada tanda koma setelah kata “Rendi” sehingga MC dan musisi dianggap satu kesatuan yang menyatakan sosok Rendi.
Dari contoh di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan tanda baca sangat krusial bagi sebuah tulisan.
Oleh karena itu, kamu patut paham soal tanda baca saat terjun ke dunia tulis-menulis.
4. Kata-kata yang Terlalu Rumit, Teknis, dan Sulit Dipahami
Dalam sebuah interview, Raditya Dika bercerita bahwa dia pernah dikritik mentornya karena menulis dengan kata-kata yang rumit. Padahal, dia bisa menulis dengan kata-kata sederhana agar lebih mudah dipahami pembaca. Raditya Dika kemudian sadar bahwa dia menulis kata-kata rumit itu untuk terlihat “pintar” di mata pembaca.
Sebenarnya, tidak ada salahnya bila kamu menulis kalimat rumit, terutama bila kamu menulis skripsi, jurnal penelitian, atau tulisan-tulisan senada lainnya.
Jenis tulisan tersebut memang butuh pendekatan yang penuh kata-kata teknis, serta ditujukan bagi kalangan pembaca yang mendalami suatu bidang keilmuan atau mencari rujukan.
Kalimat-kalimat yang teknis atau rumit dapat memperkuat teori, argumen, atau hipotesis soal kasus yang diteliti.
Namun, bila kamu menulis bagi khalayak umum, sebaiknya menulislah dengan kata atau kalimat sederhana yang mudah dicerna semua orang.
Orang-orang biasanya sulit bertahan saat membaca tulisan yang ribet, apalagi tulisannya penuh kata-kata yang tidak mereka pahami. Mereka bakal menurunkan minat baca terhadap tulisan tersebut.
Menulis dengan sederhana dapat membantu mereka untuk menerima pesan yang jelas tanpa disalahartikan.
Menulis dengan kata-kata simpel bukan berarti kualitas tulisanmu jelek. Tulisanmu justru bagus karena efektif dalam menyampaikan pesan kepada pembaca.
Sebagai penulis, kamu dituntut mengantar sebuah informasi sejelas-jelasnya. Jika kamu bisa melakukannya dengan cara yang lebih simpel, kenapa harus bikin kalimat-kalimat ribet?
Kamu harus fokus pada pesannya, bukan kata-katanya.
5. Kalimat yang Terlalu Panjang
Jumlah kata dalam suatu kalimat sangat berdampak pada kemudahan pembaca untuk mencerna inti tulisan.
Kalau kalimatnya terlalu banyak, pembaca sulit memahami inti kalimat. Sebaliknya, kalimat pendek lebih mudah ditangkap poin pentingnya.
Namun, apabila sebuah kalimat ditulis dengan rapi, maka pembaca mudah mencernanya meski jumlah katanya sangat banyak.
Idealnya, jumlah kata dalam satu kalimat adalah 8-17 kata. Jumlah kata lebih dari 20 termasuk sulit dipahami.
Oleh karenanya, agar pembaca tidak kesulitan untuk memahami inti kalimat, tulislah kalimat yang relatif singkat tapi sudah memuat informasi yang disampaikan.
Sebagai penulis, kamu pasti paham bahwa pembaca adalah aset penting penulis.
Kenyamanan bikin pembaca jadi penggemar.
Beri pembacamu kenyamanan dan mereka pasti setia menantikan tulisan-tulisanmu.
Leave a Reply