Tengah malam kemarin, di tongkrongan, teman saya nyeletuk, “Indonesia itu visibilitasnya kurang di mata dunia.”
Sambil nyeruput kopi, saya minta penjabaran. Dia bicara panjang lebar. Intinya, dunia tahu Indonesia ada, tapi nggak tahu apa itu Indonesia.
“Tahu nggak kenapa?” katanya kemudian.
Saya geleng-geleng.
“Pop culture kita kurang mendunia.”
Obrolan itu melebar ke banyak hal sebelum kami bahas politik, agama, dan konspirasi sampai sahur tiba.
Entah teman saya bicara berbasis data atau opini pribadi, ucapannya menghantui saya.
Alih-alih tidur, saya tak tahan untuk berselancar usai pulang ke rumah. Saya nggak menemukan data, tapi ada sejumlah konten yang berpendapat seperti teman saya.
Lama betul saya berkelana sampai akhirnya saya kepikiran soal Jepang.
Saya belum pernah mampir ke Jepang. Saya tak berminat mencari tahu soal Jepang. Membicarakan Jepang pun jarang.
Tapi, saya mengenal Jepang dengan cukup baik. Saya tahu sebagian sejarahnya, sedikit bahasanya, dan beberapa budayanya.
Kenapa saya bisa tahu? Tentunya gara-gara pop culture mereka.
Barangkali ucapan teman saya–yang entah disertai data atau opini pribadi–adalah benar.
Toh, sepengalaman saya, saya mengenal Jepang karena pop culture seperti anime, game, novel, dan film.
Mereka seolah-olah menjadi potret dari kehidupan nyata di Jepang, atau rangkuman soal Jepang itu sendiri.
Ketika saya terpikat, mereka menanamkan rasa penasaran di benak saya diam-diam, mendorong saya untuk mencari tahu lebih banyak soal menu yang mereka suguhkan.
Coba bayangkan, siapa yang tak tergoda mencicipi ramen usai melihat antusiasme Naruto saat makan ramen hingga kuahnya habis?
Siapa yang tak terpikat mengulik J-Pop setelah mendengarkan Otonoke karya Creepy Nuts yang jadi lagu pembuka Dandadan?
Orang macam apa yang nggak tertarik baca sejarah era Sengoku gara-gara main Sengoku Basara 2 di PS2?
Siapa pula yang nggak mau mampir ke Suga Shrine Stairs selepas menonton Kimi no Nawa?
Pop culture seperti mereka menjadi alat untuk memperkenalkan Jepang kepada dunia melalui cara yang indah, hangat, asyik, seru, dan menyenangkan.
Tanpa paksaan, propaganda, atau kampanye besar-besar. Jepang menyebar ke penjuru dunia dengan sendirinya, menjadikannya negara yang tak hanya ada, tapi juga dikenal.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Apakah pop culture asal tanah air kita bisa mendunia layaknya milik Jepang?
Tentunya, perlu diingat bahwa kita punya pop culture yang kental dengan keindonesiaannya.
Di sisi musik, kita punya dangdut. Soal film, kita ada Pengabdi Setan dan Ngeri-Ngeri Sedap. Dari sisi serial animasi, kita punya Adit & Sopo Jarwo, Keluarga Somat, atau Si Entong. Kalau dari sastra, kita punya penulis hebat seperti Pramoedya Ananta Toer, Andrea Hirata, hingga Sapardi Djoko Damono.
Namun, apakah mereka cukup kuat untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia, ini perlu dikaji lebih lanjut. Soalnya, kecintaan orang kepada suatu pop culture itu tergantung pada selera. Kalau memasukkan sisi Indonesia ke dalam pop culture yang kurang menarik bagi orang-orang dari luar Indonesia, bukan mustahil mereka tak terpikat untuk mengenal Indonesia.
Jika pop culture bisa menjadi jembatan bagi suatu negara untuk dikenal dunia, saya rasa Indonesia harus belajar dari Jepang: Berani berinvestasi pada pop culture-nya.
Dengan pop culture yang memiliki daya tarik dan menyuguhkan pengalaman menghibur, bukan mustahil dunia memalingkan pandangannya ke arah kita.
Saya harap, entah dengan pop culture atau prestasi tertentu, Indonesia menemukan jalannya sendiri untuk dikenal oleh dunia.
Semoga, suatu hari nanti, seluruh dunia tidak hanya tahu Indonesia di peta, tapi mengenal Indonesia di benak dan hati mereka.
Leave a Reply