Anak Rumahan

Status anak rumahan sudah dilekatkan kepada saya oleh teman-teman dan orang tua.

Saya memang suka di rumah aja. Saya rasa ini lumrah mengingat hidup saya nyaman, tapi rupanya sebagian orang tidak beranggapan serupa.

Beberapa teman mengomentari tabiat saya yang satu ini. Mereka bingung kenapa saya suka banget di rumah. Berbagai pertanyaan soal kebiasaan saya pun harus keluar dari mulut mereka.

Sebagian teman justru berusaha mengubah pola pikir saya supaya lebih sering keluar rumah. Ada yang ngajak main melulu. Ada yang menasehati dengan alasan yang masuk akal. Ada juga yang sempat bilang, “Nggak baik lho di rumah mulu. Kamu harus ketemu orang baru. Kayak aku, nih, ketemu orang baru setiap hari.”

Saya cuma bisa batin, “Ente kan kerja di restoran emak ente. Mau jadi sapu ijuk pun pasti ketemu orang baru!”

Saya paham alasan mereka bertindak seperti itu, soalnya mereka peduli kepada saya. Tapi, saya benci dibanding-bandingkan.

Harus diakui tabiat saya yang satu ini sudah masuk level ekstrem–bulan Maret ini saya cuma keluar rumah buat malam mingguan dan belanja di Superindo.

Di luar itu, saya hanya menginjakkan kaki keluar saat ada kegiatan yang harus dilakukan di luar atau ada sesuatu yang genting, misalnya terjadi gempa atau gunung meletus.

Lagian, kehidupan saya memang mendukung untuk tinggal di rumah. Kenapa?

1) Saya kerja di rumah

2) Hobi saya bisa dilakukan di rumah

3) Daerah rumah saya nggak ada gempa atau gunung meletus.

Selain itu, entah mengapa saya punya kecenderungan untuk memindahkan hal-hal yang saya sukai dari dunia luar ke dalam rumah.

Mau ngopi, saya sedia stok kopi beserta mesinnya. Mau workout, saya punya peralatan gym sederhana. Mau kerja, saya punya meja kerja yang nyaman di kamar.

Jadi, buat apa keluar rumah?

Iya, saya tahu keluar rumah memang penting. Masalahnya, kehidupan saya sudah diatur untuk bikin saya lebih sering tinggal di rumah. Lebih-lebih, meskipun situasinya begini, bukan berarti saya nggak keluar rumah. Saya tetap berusaha keluar rumah kok… kalau ada gempa atau gunung meletus.

Alasan lain mengapa saya jarang keluar rumah adalah waktu.

Tiap pagi, dari Senin sampai Jumat, saya olahraga lalu bekerja sampai sore. Malamnya, saya asyik menulis di kamar. Di hari Sabtu, saya keluar rumah karena main bareng pacar (Sumpah, saya anak rumahan tapi punya pacar. Cakep pula, demi Tuhan!). Minggu-nya saya baru punya waktu luang, tapi habis untuk menulis dan maraton anime.

Jadi, paham, kan? Situasinya terlalu mendukung saya untuk tetap jadi anak rumahan.

Sebenarnya, apa yang mau saya katakan adalah orang-orang suka banget membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain, merasa kehidupannya jauh lebih baik karena alasan-alasan yang bikin mereka menonjol saja.

Kalau merasa hidupmu jauh lebih baik karena sering keluar rumah, silakan ambil itu untuk dirimu sendiri. Saya nggak keberatan atau peduli, toh tiap individu punya cara untuk menikmati hidupnya masing-masing. Jangan cari validasi cuma buat bikin kehidupanmu terasa lebih baik.

Saya bahagia dengan hidup sebagai anak rumahan. Hidup, kan, bukan tentang seberapa sering keluar rumah, tapi soal bagaimana saya nyaman menjalani hidup itu sendiri.

Saya cuma mau hidup sesuai kata hati, nggak butuh validasi, apalagi rela disetir orang lain.

Ini sudah masuk 2025, lho. Bukan waktunya membandingkan hidupmu dengan milik orang lain lagi. 

Lagi pula, selama saya hidup bahagia sebagai anak rumahan, kita sama-sama nggak rugi, kan? Toh, ada saatnya saya pasti keluar rumah… kalau ada gempa atau gunung meletus.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *