Batasan dalam Cerita Fiksi

Banyak orang bilang cerita fiksi tidak punya batasan. Apa pun boleh terjadi karena semuanya dari imajinasi si penulis atau pengarang, tak peduli seberapa gila atau absurd ceritanya. Tapi, kenapa ada cerita yang terasa ganjal dan merusak kesenangan kita?

Iya, penulis memang boleh bertindak sesuka hati saat menulis cerita fiksi. Bahkan, kalau mau berangkat dari sejarah atau kisah nyata, akurasi kisah aslinya dapat diubah demi kepentingan tertentu. Tetapi kalau dibilang tidak punya batasan, kok kurang tepat, ya?

Padahal, sebuah cerita fiksi sudah punya batasan sejak dimulai. Batasan ini diciptakan oleh penulis atau pengarangnya sendiri. Dan, entah mengapa, batasan ini malah dilanggar demi kepentingan tertentu.

Lantas, apa sih batasan dari cerita fiksi?

Batas Cerita Fiksi adalah World-Building-nya

Setiap cerita fiksi pasti punya world-building, yaitu proses pembentukan atau perancangan dunia imajiner yang lengkap dan rasional untuk membentuk pondasi cerita.

Tujuan world-building bermacam-macam: membuat dunia yang berbeda dari cerita fiksi lain, menciptakan latar yang sesuai, mengikat pembaca atau penikmat dengan dunia tersebut.

Oleh karenanya, world-building mencakup berbagai aspek seperti sejarah, politik, hukum, era, budaya, bentuk dunia, sistem kekuatan, dan sebagainya.

Aspek-aspek ini adalah aturan di dunia tersebut, yang mana menjadi batasan dalam cerita fiksi. Dengan kata lain, batas dari cerita fiksi adalah world-building-nya sendiri.

Sebagai contoh, mari kita tengok anime Dragon Ball Z.

Sejak awal, kita diperkenalkan sebuah aturan: Orang yang bisa menjadi Super Saiyan adalah bangsa Saiyan dan ras campuran bangsa Saiyan.

Penulis atau pengarang wajib menaati aturan tersebut. 

Kalau ada karakter yang bisa jadi Super Saiyan, karakter itu harus bangsa Saiyan atau punya darah Saiyan. Para karakter yang tak punya darah Saiyan tidak boleh jadi Super Saiyan.

Kenapa Aturan Ini Menjadi Penting?

Ketika penulis sudah menetapkan sebuah aturan, artinya mereka berjanji bahwa cerita akan berjalan mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Sebagai penikmat, kita memegang erat aturan tersebut. Kita paham bahwa aturan ini sangat penting untuk kelangsungan cerita.

Kalau penulis melanggarnya, kita merasa dikhianati karena pemahaman kita diubah tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Cerita pun menjadi inkosisten, merusak world-building yang sudah dibangun. Makanya, pelanggaran aturan cuma bikin cerita jadi janggal. Malahan, itu bisa merusak legacy ceritanya sendiri.

Pada contoh sebelumnya, ada aturan bahwa hanya bangsa Saiyan dan campuran Saiyan yang bisa jadi Super Saiyan.

Inilah alasan mengapa kita tidak protes saat Goku (ras Saiyan murni) berubah menjadi Super Saiyan. Kita juga tak jengkel saat Gohan berubah jadi Super Saiyan, soalnya Gohan adalah campuran ras Manusia dan Saiyan.

Beda cerita kalau Piccolo yang ras Namek murni tiba-tiba jadi Super Saiyan. Kita pasti merasa bingung dan janggal karena dari awal aturannya tidak begitu. Kita bebas protes ke penulisnya karena bikin cerita yang ngawur.

Kalau sudah ada aturan, penulis hanya boleh bermain-main dengan aturannya.

Dengan kata lain, penulis bebas berimajinasi selama tetap menaati aturan.

Misalnya, penulis ingin kekuatan Piccolo semakin kuat. Jangan buat Piccolo bisa menjadi Super Saiyan, tapi perkenalkan evolusi kekuatan khusus ras Namek.

Cerita ini pastinya tidak melanggar batasan. Cerita tidak inkosisten. World-building terbangun dengan rapi.

Jika penulis ingin melanggar aturan, mereka harus melakukannya dengan cerdas. Caranya? Kasih alasan yang jelas dan masuk akal kepada pembaca atau penikmat.

Hal ini pernah dilakukan pada film Doraemon: Petualangan Nobita di Negeri Sihir.

Seperti yang kita tahu, salah satu aturan di dunia Doraemon adalah penduduk bumi hanya orang biasa. Mereka tidak bisa melakukan hal ajaib, kecuali memakai alat-alat Doraemon. Contohnya, bila manusia ingin terbang, mereka butuh baling-baling bambu.

Namun, dalam Doraemon: Petualangan Nobita di Negeri Sihir, Nobita dan kawan-kawannya terbang tanpa baling-baling bambu, melainkan sapu. 

Kenapa? Karena Nobita sudah mengubah dunianya menjadi Dunia Sihir berkat alat bernama Kotak Seandainya.

Melalui cara ini, meskipun Nobita bisa terbang, aturan tidak dilanggar karena ada alasan yang jelas dan masuk akal.

Kita memahami alasan Nobita bisa terbang tanpa baling-baling bambu.

Cerita Fiksi Wajib Punya Batasan!

Batasan pada cerita fiksi tidak bertujuan untuk membatasi imajinasi penulis, tapi memperkuat dunia yang sudah dibangun agar cerita konsisten. Batasan inilah yang bikin pembaca atau penikmat tetap menikmati cerita tanpa merasakan sesuatu yang janggal.

Penulis harus setia menjaga batasan pada karya fiksinya. Apabila ada perubahan, sebaiknya diiringi oleh alasan yang jelas dan masuk akal. Imajinasi memang boleh liar, tapi pondasi cerita tidak boleh diabaikan agar cerita tetap kokoh.

Sejatinya, cerita fiksi memang tidak terikat oleh logika di dunia nyata, tapi memiliki logika internalnya sendiri.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *