Belakangan, blog ini diisi oleh ocehan saya soal menjadi dewasa.
Mau gimana lagi? Fase ini jadi keresahan saya sekarang. Kehidupan saya yang indah mendadak direnggut tanggung jawab, ekspektasi, dan impian yang besar. Saya kaget dan resah, tapi tetap menjalaninya dengan tulus dan semangat. Selama pekerjaan selesai, kayaknya nggak masalah kalau saya ngomel melulu.
Saya masih beradaptasi dengan fase ini. Mental dan tenaga saya belum cukup kuat menghadapi cobaan-cobaan yang nggak jarang beratnya di luar nalar. Di beberapa momen, kadang saya jenuh, capek, dan burnout.
Kalau ada di momen-momen itu, saya pasti buka platform streaming dan nonton anime.
Setelah melakukannya berulang kali, saya menyadari ada yang berubah dari selera saya. Gairah saya yang selalu antusias menonton anime-anime penuh aksi beralih ke anime slice of life yang membosankan.
Saya tak menyukai genre ini sebelumnya. Tentu, saya sempat menonton anime-anime slice of life, tapi nggak pernah lebih dari satu episode. Genre ini terlalu lama bikin mesin saya panas. Saya mau sesuatu yang bombastis dan berisik. Dar-der-dor dan bak-bik-buk pokoknya. Kalau nggak ada teriakan yang memekakkan telinga dari si protagonis, rasanya hambar.
Sejak masuk fase ini, saya terlalu lelah untuk menonton anime-anime yang intens. Rasanya mental dan tenaga makin capek waktu melihat itu semua. Saya butuh anime yang segar dan tenang, dan saya nggak menyangka anime slice of life adalah jawabannya.
Dunia ini terlalu random. Nggak cuma nasib, selera anime saja juga dibolak-balik. Kurang kerjaan betul!
Anime slice of life pertama yang saya tonton sampai habis adalah Gakuen Babysitters, anime soal pengasuh balita yang lebih saya sukai ketimbang Dragon Ball (artikelnya bisa dibaca di sini). Tetapi, anime yang bikin saya jatuh cinta dengan genre ini adalah Komi Can’t Communicate.
Anime ini ceritanya simpel. Komi adalah gadis sempurna yang sulit berkomunikasi dengan orang lain (bukan disabilitas, hanya gangguan komunikasi). Ketika masuk SMA, dia ingin mendapatkan 100 teman, tapi kekurangannya berpotensi menghambat tujuannya. Setelah bertemu Tadano Hitohito yang memahami dirinya, Komi mulai mendapatkan teman-teman baru.
Apa yang menarik hati saya untuk menyelesaikan dua musim Komi Can’t Communicate adalah plot cerita yang ringan, komedi segar, dan paras Komi yang kecantikannya di luar nalar. Ditambah kualitas animasi dan scoring yang ciamik, Komi Can’t Communicate layak disebut tontonan yang menyenangkan.
Anime ini kemudian membuka pintu saya agar menonton anime-anime slice of life lainnya.
Secara garis besar, anime slice of life berpusat pada cerita orang-orang biasa di dunia yang biasa dalam menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Cerita mereka mirip kehidupan manusia di dunia nyata. Nggak ada embel-embel jurus, makhluk-makhluk aneh, atau teriakan yang mengganggu.
Ceritanya punya pendekatan yang relatable dengan kehidupan manusia. Konflik para karakter bisa ditemui dalam keseharian, dan barangkali pernah kita alami. Latarnya pun berada di era modern atau mengikuti zaman, jadi makin relevan dengan penontonnya.
Gara-gara mengambil cerita yang dekat dengan kehidupan penonton, selalu ada selipan pelajaran hidup yang bisa dipetik dari anime slice of life.
Sebagai contoh, saya belajar adanya kesempatan kedua dari ReLIFE. Blue Period membuat saya percaya bahwa semua orang bisa meraih ambisinya meskipun memulai dari nol. Frieren: Beyond Journey’s End mengajarkan saya untuk menghargai waktu saat ini.
Ketika menonton anime slice of life, rasa penat akibat hari yang berat mendadak lenyap, digantikan oleh kenyamanan. Saya menghargai kehangatan yang disajikan, rasanya seperti minum teh di sore hari–segar, sederhana, dan berkesan.
Singkatnya, anime slice of life membantu saya untuk melalui fase dewasa ini dengan lebih ringan. Ini bukan berarti saya ingin bersantai-santai saja, ya. Saya masih muda, tenaga dan mental ini perlu diperah habis-habisan mumpung masih kuat. Akan tetapi, ada kalanya saya ingin rehat sejenak dari hiruk piruk dunia.
Leave a Reply