Kemarin, saya menonton video yang nyebelin di Instagram. Saya nggak bakal kasih detail videonya. Pokoknya, tema besarnya sudah jadi event rutin di bulan Ramadhan: razia rumah makan yang buka di siang bolong. Siapa yang melakukan razia? Orang-orang yang berpuasa.
Setahu saya, puasa adalah ibadah. Yang namanya ibadah pasti urusan umat dengan Tuhan semata. Mau berpuasa atau tidak, itu urusan masing-masing, dilarang saling mengganggu.
Tetapi, setiap Ramadhan, selalu ada saja oknum yang merasa berhak mendapat perlakukan khusus hanya karena sedang berpuasa. Mereka ngotot minta puasanya dihargai. Masalahnya, hanya karena puasa, para oknum ini cenderung tidak menghargai orang lain.
Para oknum ini bahkan berani mengusir pengunjung dan memaksa pemilik usaha untuk menutup rumah makannya segera. Alasannya: hargai mereka yang berpuasa.
Begini, ya, oknum-oknum. Ente berpuasa itu untuk ibadah, bukan minta penghargaan. Justru karena ente berpuasa, ente harus membentengi diri dari segala godaan.
Puasa itu bukan sekadar ibadah, tapi juga tempat ente belajar menahan godaan dan menumbuhkan toleransi. Kalau saat puasa malah nggak ada godaan, lalu apa yang ente pelajari dari berpuasa? Buat apa puasanya? Masa puasa dapat lapar dan haus doang? Yang bener aje, rugi dong!
Dengan adanya rumah makan yang buka di siang bolong, ente bisa belajar menahan diri untuk mampir dan pesan es teh manis. Ente bisa belajar menghargai orang yang tidak berpuasa agar mereka makan siang dengan nyaman. Ente bisa belajar untuk mengalihkan rasa lapar dan haus ke kegiatan yang lebih berfaedah–bukan menyidak rumah makan.
Saya tahu banget, kok, rasanya berpuasa. Lapar dan haus makin menyiksa. Godaan ada di mana-mana. Emosi sulit terkontrol. Tapi, begitulah puasa. Semakin digoda, kita harus semakin tahan supaya keutamaan puasa yang didapat makin besar.
Saya percaya, di balik sulitnya berpuasa, ente pasti berusaha keras menunaikannya dengan baik. Tapi, kalau ente bisa tahan lapar dan haus, kenapa nggak bisa tahan godaan untuk menyidak rumah makan dan bikin rusuh di sana?
Kalau ente mengaku beriman, seharusnya iman ente tidak goyah cuma gara-gara warung makan. Kalau ente memang beriman, mau ada mi goreng pakai telur di depan muka, ente nggak bakal sikat. Mau ada video bokep di depan mata, ente nggak buru-buru lepas celana. Kalau ente beriman, apa pun cobaan dan godaannya, ente tetap berpuasa sampai adzan Maghrib tiba.
Begini, deh. Misalnya, teman ente minum es teh di depan ente, lalu ente tergoda dan pesan es teh manis juga, itu salah ente, bukan teman ente yang asyik minum es teh.
Ini sama kayak ente yang tergoda cuma karena warung makan. Itu salah ente, bukan warung makannya. Lagian, ente ngaku berpuasa tapi termakan godaan. Justru karena berpuasa, ente seharusnya tahan godaan meskipun dalam posisi tergoda. Itu baru namanya puasa.
Daripada menyidak rumah makan, kenapa ente nggak menyidak diri ente sendiri dulu? Misalnya, introspeksi keimanan ente, siapa tahu terlalu lemah untuk menahan godaan. Atau, minimal pikir dulu apakah menyidak rumah makan adalah tindakan yang penuh berkah di bulan Ramadhan.
Lagian, kenapa ente punya niat untuk menyidak rumah makan di siang bolong, sih? Mau melindungi orang-orang yang berpuasa supaya tidak tergoda?
Asal ente tahu, ya. Orang-orang yang ente kira bakal tergoda itu cuma asumsi ente. Orang puasa itu cerdas, apalagi mereka sudah berpuasa puluhan tahun, pasti mereka tahu mana yang benar dan salah. Mereka sudah terbiasa melihat dan menahan godaan. Ente nggak perlu mewakili orang-orang yang nggak butuh diwakili.
Sadar, nggak, sih? Rumah makan yang buka di siang bolong itu nggak pernah mengganggu puasa ente atau orang lain, lho. Mereka nggak pernah ngajak ente untuk mampir dan beli es teh manis. Justru ente yang tiba-tiba merasa tergoda, lalu mampir dan marah-marah–bukankah ini justru bikin batal puasa ente sendiri?
Beda cerita kalau ente digoda langsung untuk makan di sana. Silakan dikasih paham kalau begitu. Tapi tetap pakai cara yang baik, ya. Soalnya masih puasa.
Lagian, nggak ada untungnya razia rumah makan. Pertama, ente dicap pengganggu oleh orang-orang yang tidak setuju dengan ente. Kedua, orang yang nggak puasa sulit cari makan. Ketiga, pemilik rumah makan nggak dapat penghasilan untuk hidup.
Semua rugi. Padahal, di bulan Ramadhan, seharusnya kita berlomba-lomba berbuat kebaikan. Di mana letak kebaikan dari menutup rumah makan? Yang ada malah ente menutup rezeki orang. Itu zalim namanya.
Di bulan puasa ini, ada juga Muslim yang nggak diwajibkan berpuasa: musafir, orang hamil, dan lain-lain. Bayangkan kalau semua rumah makan dipaksa tutup oleh ente, orang-orang yang nggak berpuasa ini harus cari makan di mana? Bukannya bantu sesama Muslim, ente malah bikin semuanya susah.
Seperti ente, saya pun berpuasa. Saat ada teman non-muslim yang makan nasi goreng di depan saya, saya tetap berpuasa. Teman saya pun makan dengan santai. Saya tak minta dia berhenti makan, dan dia tak menggoda saya untuk mencoba nasi gorengnya. Ini yang namanya saling menghargai. Saya menghargai dia dan dia menghargai saya. Dia kenyang dan puasa saya nggak batal.
Buat ente yang suka merazia rumah makan, atau punya niat menyidak rumah makan, saya cuma mau bilang, “Kalau puasa ente mau dihargai, hargai juga yang tidak berpuasa. Paham?”
Menyidak rumah makan itu bukan tindakan saling menghargai, tapi cuma menguntungkan ente, sementara pemilik rumah makan dan orang yang nggak berpuasa dapat ruginya.
Saling menghargai seharusnya tidak menjatuhkan siapa pun.
Ente yang berpuasa pasti Muslim, jadi seharusnya ente tahu perintah pertama yang dikasih untuk Rasulullah, Iqra (bacalah). Artinya, ente disuruh banyak membaca (belajar) supaya cerdas, bisa membedakan yang benar dan salah.
Dengan membaca, ente juga tahu bahwa Indonesia bukan negara Islam, tapi Bhinneka Tunggal Ika. Ada banyak agama yang diakui negara, dan mayoritas memeluk Islam, tapi bukan berarti ente bisa semena-mena karena punya massa yang lebih banyak.
Silakan beribadah sesuai ajaran agama ente, biarkan mereka beribadah sesuai ajaran agama mereka. Kalau semuanya saling menghargai, bukannya itu lebih enak buat hati dan pikiran? Apalagi, di bulan puasa, hati dan pikiran yang tenang itu sebuah berkah. Artinya, kita menjalankan puasa dengan tulus dan gembira, bukan menganggap puasa sebagai kewajiban yang penuh tuntutan.
Berpuasa itu banyak manfaatnya, terlalu banyak sampai nggak bisa dihitung. Salah satunya, puasa nggak cuma bikin kita lebih sabar dan tahan godaan, tapi juga makin toleransi terhadap perbedaan.
Buat yang berpuasa, saya harap kamu menunaikannya dengan sempurna selama sebulan. Jangan bolong. Jangan diam-diam makan nasi kerang balado di warteg. Jangan pula bikin cerita kamu nggak sengaja kemasukan kebab di siang bolong. Dan, jangan berani-beraninya menyidak rumah makan.
Maaf kalau tulisan kali ini isinya ngomel-ngomel, padahal masih puasa. Saya nggak bakal mengulanginya… tapi nggak janji.
Selebihnya, selamat menjalankan ibadah puasa dan tidak menjalankan ibadah puasa.
Leave a Reply