Di tahun 2005, terbit sebuah novel yang berisi catatan harian pelajar bodoh. Asalnya dari sebuah blog. Isinya soal keseharian si penulis. Ada banyak typo, penuh ejaan salah, dan sering melanggar kaidah-kaidah penulisan.
Sekilas, novel ini tampak ditulis asal-asalan. Tapi, ini adalah novel populer pada masanya. Penjualannya meledak. Semua orang suka. Penulisnya jadi terkenal dan kaya raya. Dia menerbitkan tujuh novel serupa di tahun-tahun mendatang. Semua tak pernah absen dari rak best seller.
Bagi kamu yang familier dengan cerita ini, kamu pasti bisa menebak bahwa novel yang dimaksud adalah Kambing Jantan karya Raditya Dika.
Kisah ini sedikit mengingatkan saya pada ungkapan “setiap karya ada peminatnya”.
Tanpa merendahkan Raditya Dika, perlu diakui Kambing Jantan punya kualitas penulisan yang jauh dari kata bagus. Tidak seperti penulis jempolan yang penulisannya rapi, Raditya Dika malah tidak merevisi apa pun pada novel ini, membiarkannya amburadul meski tetap bisa dipahami.
Dari segi esensi, cerita-cerita pada Kambing Jantan hampir tidak ada faedahnya. Kalau dibandingkan dengan kumpulan karya cerpen Eka Kurniawan atau Haruki Murakami, Kambing Jantan seharusnya malu.
Tetapi, mustahil menampik fakta bahwa Kambing Jantan sangat digandrungi berbagai kalangan. Menginspirasi orang-orang menjadi blogger usai membacanya. Bahkan, melahirkan tren baru di dunia blog dan buku.
Dengan kata lain, Kambing Jantan membuktikan bahwa setiap karya punya peminatnya masing-masing–tak peduli apakah karya itu terkesan jelek, aneh, gila, atau sembrono.
Kalau ditelusuri, ungkapan ini cukup populer di kalangan seniman, termasuk bagi penulis.
Sebagian penulis meyakininya, menjadikannya motivasi agar tidak takut berkarya dalam bentuk apa pun, seolah-olah semua jerih payah mereka pasti terbayar. Tidak peduli bagaimana bentuk, esensi, kualitas, substansi, dan relevansi karya tersebut, selalu ada orang yang mengapresiasi.
Yang namanya peminat memang pasti ada. Walaupun hanya satu, sudah cukup membuktikan bahwa setiap karya ada peminatnya. Lagian, ini hanya soal selera.
Namun, ungkapan ini sering dipahami dengan keliru.
Ketika para penulis yakin bahwa setiap karya ada peminatnya, mereka bisa terjebak dalam sebuah zona. Mereka diperdaya oleh dalih “pasti ada peminatnya”, sehingga mereka mengabaikan aspek-aspek penting dalam tulisan; misalnya teknik, struktur, penyuntingan, dan lain-lain. Alih-alih memotivasi penulis untuk jadi lebih baik, zona ini justru bikin mereka stagnan karena nyaman mengulang pola ngawur tanpa perubahan dan perbaikan.
Ketika itu terjadi, artinya ungkapan ini dianggap sebagai pembenaran atas karya yang ditulis serampangan, seolah-olah tidak masalah bila karya tersebut kurang berkualitas hanya karena pasti ada peminatnya. Bagi saya, pola pikir semacam ini dapat merugikan penulis itu sendiri.
Saya percaya bahwa penulis adalah profesi yang tak hanya dituntut untuk menulis bagus, tapi juga beradaptasi, berinovasi, dan berkembang. Ini berkaitan dengan dunia tulis-menulis yang aktif berubah-ubah sesuai tren dan permintaan peminat.
Meskipun saya setuju bahwa setiap karya ada peminatnya, saya enggan membiarkan ungkapan ini menjadi dalih untuk menulis asal-asalan. Memang benar bahwa peminat pasti ada, tapi bukan berarti penulis bisa berhenti menulis dengan baik.
Bila selalu menulis dengan sembrono, kualitas karyanya tentu ada di level itu-itu saja (atau menurun). Lebih jauh lagi, seorang penulis bisa kehilangan motivasi untuk belajar, tumbuh, dan bereksperimen. Hal ini pasti berdampak pada popularitas penulis nantinya, karena pilar utama untuk mempertahankan popularitas penulis adalah karya mereka sendiri.
Peminat adalah mesin penggerak utama dari tren dan permintaan pasar. Seorang penulis mungkin punya penggemar setia. Mulanya barangkali mereka suka dengan tulisan yang sembrono. Akan tetapi, bila mereka dijejali tulisan ngawur melulu, mereka bisa jenuh dan mencari penulis lain yang lebih relevan–memenuhi kebutuhan mereka yang berubah-ubah.
Dalam kasus Raditya Dika, Kambing Jantan memang ditulis asal-asalan, tapi Raditya Dika melakukan perbaikan di novel-novel berikutnya.
Walaupun masih menceritakan kisah-kisah tak berfaedah–misalnya cerita soal sopirnya yang bau ketiak–tak ada lagi typo, ejaan yang salah, atau penulisan yang melanggar kaidah pada novel barunya. Kalimatnya pun lebih majemuk dan sederhana sehingga lebih enak dan nyaman dibaca. Lebih jauh lagi, unsur komedinya jadi lebih lucu karena storytelling-nya disusun dan dikembangkan demi memperkuat punch line.
Perbaikan-perbaikan ini sangat berpengaruh pada karier Raditya Dika, membawanya ke puncak popularitas di tengah persaingan dengan banyak penulis yang bermain di genre serupa.
Jadi, ungkapan “setiap karya ada peminatnya” harus dipahami dengan bijak.
Daripada menjadikannya alasan untuk mengabaikan kualitas dan perkembangan, lebih baik melihatnya sebagai peluang untuk berkarya, berbenah, dan bereksperimen. Yakinlah bahwa tiap perubahan dan inovasi selalu punya tempat di hati peminat.
Penulis patut memahami bahwa menulis bukan hanya tentang menemukan pembaca, tapi juga melayani dan menghormati mereka dengan memberi karya-karya terbaik.
Leave a Reply