“Sesuatu yang kacau pun tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali.” -A. S. Laksana.
Semua penulis pasti ingin menghasilkan tulisan terbaik. Setidaknya, kamu ingin tulisan itu bisa dibanggakan atau punya timbal balik sesuai yang kamu harapkan.
Itu adalah keinginan yang bagus, tidak ada salahnya bila kamu menginginkannya, dan akan terdengar aneh bila kamu adalah penulis yang ingin menulis buruk.
Akan tetapi, keinginan untuk menciptakan tulisan terbaik bisa saja membangun ekspektasi tinggi pada dirimu, bahkan sebelum proses menulis dimulai.
Yang jadi masalah, kamu mungkin takut menulis karena ekspektasi tinggi yang kamu patok sendiri.
Menurut pengalaman A. S. Laksana saat mengajar penulisan kreatif di Jakarta School, mulanya dia menyarankan siswa-siswanya untuk menulis yang bagus. Namun, keharusan untuk menjadi bagus membuat banyak orang sulit memulai tulisan mereka, terbebani, ruwet dengan diri sendiri, dan tak pernah serius menulis.
Artinya, ekspektasi yang tinggi punya potensi untuk menghambat dirimu dalam menulis tulisan terbaik, dan tanpa kamu sadari, ekspektasi itu memberimu ketakutan.
Kamu takut tulisanmu tidak sesuai ekspektasimu. Kamu takut menerima timbal balik yang tak sesuai harapan. Kamu takut dengan berbagai dampak negatif lain yang tak terkira jumlahnya.
Di tengah ketakutan itu, kamu akan melamun dan bertanya: Bagaimana saya memulai tulisan ini agar menjadi tulisan terbaik? Apa ide saya cukup untuk dijadikan tulisan yang bagus? Apakah saya bisa menulis tulisan terbaik?
Kamu terus melamun dan melamun ditemani semua ketakutan yang mengeroyokmu dari mana-mana, dan ketakutan-ketakutan ini bikin kamu takut menulis, lalu kamu meninggalkan tulisanmu sehingga tulisan itu tidak pernah ada.
Apa kamu pernah mengalami peristiwa itu?
Jika kamu pernah mengalaminya, sering terjebak di dalamnya, dan butuh solusi untuk lolos dari sekapannya, saya punya ide.
Bagaimana kalau kamu coba menulis buruk?
Apa itu Menulis Buruk?
Saya tidak memberi saran abal-abal saat saya minta kamu menulis buruk. Saya pun tidak meremehkan dirimu, atau mengolok-olok dirimu bahwa kamu tidak bisa menulis tulisan terbaik.
Sebaliknya, saya justru mau bantu kamu menciptakan tulisan terbaik dengan cara menulis buruk.
Kok bisa?
Iya, saya tahu ini terdengar kontradiktif. Ini mirip seperti saya minta kamu berbuat kebaikan melalui tindakan kriminal. Namun, jika saran saya yang satu ini tidak merugikan siapa-siapa, artinya ini layak dicoba, kan?
Jadi, dalam bukunya yang berjudul Creative Writing, A. S. Laksana mengaku selalu menulis buruk… untuk menghasilkan draft pertama tulisan. Dia bilang, “Draft pertama saya pasti melompat-lompat, alurnya kacau, kalimat-kalimatnya mungkin tidak indah sama sekali, dan sebagainya.”
Tapi, itu bukan masalah. Baginya sesuatu yang kacau tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali. Lebih baik menghasilkan draft tulisan yang buruk ketimbang hanya merenungi kertas kosong berjam-jam.
Simpelnya, menulis buruk mirip seperti prinsip “bikin aja dulu” yang biasanya kamu pakai saat kepepet.
Bagaimana cara menulis buruk? Gampang!
Ketika kamu punya sebuah ide, kamu bebas menulis semua ide yang ada di kepalamu dari awal hingga akhir. Tulis itu sebebas-bebasnya, sesantai-santainya, selengkap-lengkapnya.
Abaikan typo, tata bahasa, majas, tanda baca, huruf kapital, jumlah kalimat, paragraf, gaya bahasa, sudut pandang, pilihan kata, dan sebagainya.
Usai menulis, bagaimana hasil tulisanmu?
Tentunya, tulisanmu sangat jelek. Tulisanmu tidak punya struktur kalimat yang baik. Tulisanmu tidak mengikuti kaidah berbahasa Indonesia yang benar. Tulisanmu tidak layak dibaca orang-orang. Tulisanmu tidak mungkin diterbitkan penerbit. Tulisanmu mustahil dimuat di media-media ternama. Dan, tulisanmu lebih layak masuk ke tempat sampah.
Akan tetapi, sebelum kamu membuangnya, kamu harus ingat bahwa kamu belum selesai.
Saya tahu itu adalah tulisan yang buruk dan keinginan untuk membuangnya lebih besar dari ekspektasi yang kamu buat sebelum menulis, tapi semua hal buruk akan menjadi baik bila diperbaiki.
Oleh karena itu, inilah saatnya kamu masuk ke langkah berikutnya, yaitu editing.
Semua tulisan pasti melalui proses editing, dan boleh dibilang editing adalah proses menulis yang sesungguhnya karena di sini kamu menerapkan semua teknik dan ilmu menulis yang sudah kamu pelajari.
Pada tulisan jelek itu, lakukan koreksi besar-besaran, berikan majas-majas indah, lampirkan data-data faktual, tambahkan sudut pandang yang unik, bumbui dengan kutipan-kutipan elegan, dan sempurnakan dengan gaya menulis khasmu yang keren.
Setelah editing, layaknya dimantrai sihir, tulisan jelek itu berubah menjadi tulisan terbaik–sebuah tulisan yang tak layak dibuang ke tempat sampah, tulisan yang menjadi prioritas untuk diterbitkan oleh para penerbit, tulisan yang sudah pasti dimuat di media-media besar, dan tulisan yang menjadikanmu penulis yang bermanfaat bagi banyak orang.
Tips menulis buruk tidak hanya digunakan dalam bidang tulis-menulis saja, lho.
Eiichiro Oda, kreator One Piece menggunakan prinsip yang mirip menulis buruk saat menciptakan sampul manga One Piece.
Sebagai mangaka hebat, Oda-sensei tidak langsung bikin gambar bagus. Sebaliknya, Oda-sensei justru memulai dengan coretan-coretan khas anak TK untuk menghasilkan draft pertama.
Setelah menemukan desain yang pas, Ode-sensei memperbaikinya sedikit demi sedikit, dan akhirnya diwarnai dengan indah.
Hasilnya, kamu bisa menemukan karyanya pada rak komik di toko buku favoritmu.
Manfaat Menulis Buruk
Agar kamu semakin tak ragu untuk mulai menulis buruk, ada beberapa manfaat dari menulis buruk yang harus kamu tahu, yaitu:
1) Lepas dari tekanan yang tidak perlu
Coba bayangkan ketika kamu menggerakkan jari-jarimu dengan bebas tanpa tekanan atau beban yang kamu bikin sendiri, terdengar menyenangkan, bukan? Dengan menulis buruk, kamu bebas dari segala tekanan yang hanya ada di kepalamu dan belum tentu terjadi. Kamu akan menulis dengan sepenuh hati, seperti saat pertama kali kamu jatuh cinta dengan dunia menulis.
2) Mengatasi writer’s block
Mengejar kesempurnaan adalah faktor yang menakutkan dan bisa menghambat dirimu untuk mulai menulis. Kamu mungkin enggan menulis ide-ide segar yang ada di kepalamu hanya karena takut hasilnya tidak sempurna. Kamu buang ide-ide itu hingga kamu tak punya ide lagi. Jika kamu menulis buruk, kamu tak akan memikirkan hasil yang sempurna. Kamu hanya fokus memperbaiki tulisan buruk dari ide-ide segar itu menjadi tulisan terbaik menurut versimu. Dengan demikian, semua ide bisa menjadi bahan tulisan yang bagus.
3) Produktivitas meningkat drastis
Saat kamu menulis tanpa tekanan, kamu lebih fokus menyelesaikan tulisan di hadapanmu tanpa memikirkan sebuah kesalahan atau hal-hal yang tak perlu. Ini bikin kamu menulis dengan waktu yang lebih singkat. Jika kamu bisa menyelesaikan satu tulisan dengan cepat, coba bayangkan berapa banyak tulisan yang bisa kamu bikin dalam sehari?
4) Membangun momentum menulis
Ketika kamu menulis dengan bebas dalam jangka waktu tertentu, bukan tak mungkin kamu masuk ke alur menulis yang sudah kamu bangun sejak awal. Dalam alur menulis itu, kamu kamu semakin lancar dan nyaman selama proses menulis, serta bisa mengembangkan tulisanmu ke arah yang jauh lebih baik.
Semua Hal Buruk Tidak Selamanya Buruk
Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa tidak semua hal buruk selamanya buruk.
Sebuah tahi bisa diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi pohon-pohon. Air liur burung walet punya harga yang sangat mahal setelah dibersihkan dengan benar. Kopi yang berasal dari pencernaan luwak adalah salah satu kopi terbaik di dunia.
Maka, menulislah dengan buruk. Tulis sebebas-bebasnya dan seburuk-buruknya lebih dulu. Ada waktunya kamu memoles tulisanmu agar menjadi tulisan terbaikmu.
Tak ada gunanya jika kamu langsung menulis draft pertama yang bagus. Itu hanya menghabiskan waktu dan tenagamu yang seharusnya digunakan dalam proses editing.
Lagian, kamu tak perlu malu jika draft pertamamu jelek. Nggak bakal ada orang yang baca. Lhawong belum diunggah. Para pembaca pun pastinya lebih berharap untuk membaca draft terakhirmu.
Seperti kata A. S. Laksana, kamu harus ingat bahwa kamu bisa memperbaiki tulisan yang buruk, tapi kamu tidak bisa mengubah tulisan yang tidak ada.
Jika kamu punya tulisan yang buruk, kamu punya kesempatan untuk memperbaikinya. Tapi, jika kamu tak memiliki apa-apa, kamu hanya punya waktu untuk bengong lagi.
Jadi, jangan kebanyakan bengong karena takut menulis lagi, ya!
Rujukan:
Laksana, A. S. (2020). Creative Writing. Tangerang Selatan: baNANA.
Leave a Reply